Jangan Tanyakan

Udara sarat menyuarakan kebisuan di tengah badai. Aku setengah tercekik menanti sapa. Sudah berapa lama? Entah lah. Aku sepertinya telah kehilangan hitungan. Lalu aku membiasakan diri bermain dalam senyap. Bergandeng tangan dengan sepi yang senantiasa memelukku mesra. Lebih mesra dan lebih hangat dari pelukmu yang dulu…

Kemudian pada suatu malam kamu datang mengetuk pintuku. Setelah sekian hari ditelan udara, kamu berdiri di ambang pintu seperti biasanya. Aku? Sudah tentu menyambutmu dengan senyuman dan kecup mesra. Seperti biasa. Namun rupanya biasaku bukan lah biasa untukmu.

“Apakah kamu masih menginginkaku?” kamu bertanya sambil menatap mataku dalam-dalam. Dahiku berkerut sedikit. “Tentu saja. Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?” aku balik bertanya, sedikit heran. Kamu menghela nafas berat dan panjang. Wajahmu terlihat sedikit sedih, “Kamu seperti menjauh dariku…” katamu dengan nada getir. Aku tertawa kecil, “Jika aku tak menginginkamu lagi, buat apa aku membukakan pintuku untukmu?” sanggahku santai. Kamu terdiam. Tak menyangkal, namun sepertinya juga tak sepenuhnya setuju.

Lalu kita sama-sama terbaring sambil berpelukan. Kamu memelukku hangat dari belakang sambil menyurukkan wajahmu di batang leherku dan berbisik, “Aku rindu kamu…” begitu katamu lirih. Aku tersenyum simpul, “Aku juga…” aku menjawab. “Kamu tak lagi pernah menyentuhku…” kamu berkata lagi, kali ini dengan nada sedikit mengeluh. “Hmmm… mungkin karena kamu tak lagi sering datang kemari…” jawabku sedikit asal. “Apakah itu yang jadi penyebab?” tanyamu cepat dengan nada khawatir. Aku? Hanya tertawa kecil, “Tidak juga….”

Dan percakapan itu tak pernah benar-benar memiliki akhir… Tapi ingatkah kamu ketika dulu kamu pernah menitipkan aku pada genggaman Sepi? Masih ingatkah kamu apa yang kamu katakan kepadaku saat itu? Kamu menggenggam tanganku dan mengecup keningku sambil berbisik, “You’ll be just fine….” sebelum akhirnya berlalu. Aku tertegun. Berdiri terpaku dalam hening. Kamu tak mengatakan kapan kamu akan kembali untuk menjemputku. Kamu tak mengatakan apakah kamu akan sekali-sekali datang untuk menemuiku. Kamu tak mengatakan berapa lama aku harus berada bersama Sepi.

Kamu menautkan tanganku dengan Sepi, lalu memintaku menanti sambil terus bergandengan tangan dengan Sepi. Pedih adalah rasa di awal. Kebas adalah ketika terma waktu sudah masuk periode pertengahan. Lalu sekarang, ketika genggam tangan Sepi mulai terasa lebih hangat dan mesra daripada genggam tanganmu, kamu bertanya kenapa aku seperti menjauhimu? Ayolah sayang, jangan bercanda!

Jangan tanyakan kenapa aku seperti tak menginginkanmu lagi. Jangan pula tanyakan kenapa aku seolah menjauh darimu. Kamu tak bisa menitipkanku kepada Sepi di suatu malam yang dingin, kemudian pergi begitu saja tanpa pernah memberiku kepastian, lalu bertanya kenapa aku sekarang berubah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s