Memenggal Rasa

Aku duduk diam-diam sendirian. Meresapi kesunyian yang terselip di antara setiap caci makimu. Mencoba mencari sebait kedamaian dalam prahara yang bergelora. Bukan kedamaianmu. Kedamaianku sendiri. Betapa pun sakit hatiku mendengar kata-kata yang berhamburan tanpa arah darimu, namun betapa janggalnya ketika aku mendapati secarik kedamaian di antara “Mati saja kamu, pelacur!” yang terucap dengan mantap dari mulutmu. Seseorang yang berulang kali menyatakan cintanya padaku, lalu berulang kali mengusirku pergi untuk kemudian dihentak kembali.

Aku membiarkanmu menyulut lebih banyak api lagi, karena memang itu yang kamu ingin lakukan. Aku menekuri setiap lekuk liku kata-katamu. Menikmati setiap torehan rasa sakit yang kamu berikan lewat kalimat demi kalimat yang begitu mencekik jalur nafasku. Aku berharap setiap kata yang terhambur akan memenggal sedikit rasa yang tertinggal. Sedikit demi sedikit hingga tandas seluruhnya dan membuatku menjadi seorang sosiopat yang tak lagi perlu terbelenggu emosi. Tak perlu merasa.

Kamu masih menyemburkan kalimat-kalimat yang akan membuat orang lain yang mendengar mulutnya terbuka menganga karena terkejut. Tapi mulutku tak ikut menganga, hanya luka di jiwa saja yang kian lebar terbuka hingga aku bisa merasakan darah mengucur deras. Aku menatap tetesan darah yang membentuk genangan kecil di lantai. Sakit? Tentu saja. Tapi bukankah rasa sakit adalah pertanda bahwa kita masih hidup?

Kamu mengharapkan kematianku. Kamu mengatakannya padaku dengan suara keras dan mantap, seperti kamu memang benar-benar menginginkannya. Apakah itu sebuah bentuk ancaman untukku? Tapi sayang, aku tak takut menikahi keabadian. Lalu kamu mau apa? Penggal saja semua rasa yang tertinggal ini, agar aku terbebas dari semua emosi yang memenjarakanku.

Aku meraba dadaku yang sesak. Sakit? Tentu saja. Siapa yang tak sakit hatinya jika dicaci? Tapi bukankah rasa sakit adalah bukti bahwa kita masih bernyawa dan punya rasa? Maka penggal saja semua rasa yang tertinggal ini agar tak lagi harus aku merasakannya. Kamu boleh saja mencoba membunuhku dengan kata-katamu, tapi kamu tak akan pernah bisa melepaskan bayang-bayangku dari dalam rongga kepalamu.

Selamat tinggal…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s