Senyap Bertabur Kata

Kamu menawarkan keheningan panjang yang tak tahu adat. Tanpa basa-basi dan penuh dengan dusta serta alasan belaka. Setiap jelajah kalimat yang kamu luncurkan adalah pembenaran atas kesalahan yang kamu lakukan. Setiap kali jemari tertuding, kamu akan menuding balik dengan alasan klasik, “It’s a two way street…” – kamu ingin tahu apa yang aku pikirkan ketika kamu mengatakan kalimat itu? “Peduli setan! Kamu menyakitiku!”

Kamu sedang merenangi sebuah samudra dusta yang gelombangnya begitu besar dan menggelora. Aku menanti detik-detik di mana kamu mulai tersedak kata-katamu sendiri, lalu perlahan tenggelam dalam pusaran rasa tak percaya yang semakin lama semakin kuat. Tahukah kamu bahwa semua kecup mesra di bibir, sesungging senyum dan pelukan hangat yang kamu terima ketika kalimat manis nan beracun seperti “Aku memaafkanmu…” mengalir dari mulut dan menggeruduk gendang telingamu, jangan pernah kamu menganggapnya sebagai jaminan ketenangan jiwa untukmu. Tak ada yang dimaafkan, karena tak ada kebenaran yang dicetuskan. Deretan dusta dengan sebait pembelaan yang penuh dusta, dimaafkan oleh sederet kalimat pemaafan yang tak tulus dan tak jujur. Dusta dimaafkan oleh dusta. Apa bedanya? Kamu hanya dijerat dalam rasa ingin tahu berkepanjangan yang tak berujung.

Lalu apa? Kamu dimaafkan atas dusta yang kamu bentengi dengan dusta lain? Ah, sungguh menggelikan! Mungkin itu sebabnya malam-malammu selalu gelisah. Tidurmu tak lelap. Dan kamu merasa harus selalu waspada. Lalu bagaimana dengan aku? Aku hanya harus menerima penawaranmu yang berupa keheningan, serta sederet kekesalan yang tak bisa kamu luapkan di tempat lain karena dustamu sudah terlalu menjerat isi kepalamu.

Kamu menawarkan senyap bertabur kata-kata beracun. Manis, namun menyakiti. Tunggulah sekejap, aku pasti akan datang dengan penawar racun terbaik di tanganku. Dan ketika penawar itu telah aku genggam, maka racun dari taburan kata-katamu tak akan lagi bisa menyakitiku, meski mungkin dustamu masih akan sedikit terasa menggigit di jiwa.

Aku duduk seorang diri di tepi danau dustamu sambil menahan rasa sakit. Aku mengamati gumpalan kata-katamu yang beriak. Setiap rentang gelombangnya menampar rentang gelombang lain hingga menimbulkan efek riak yang sambung menyambung, kian melebar dan kian meluas hingga ke dataran seberang. Aku menggenggam beberapa bongkah batu di tanganku. Aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya batu ini aku lemparkan ke danau agar riak yang ada semakin besar dan semakin melebar, atau aku buang saja ke jurang? Entah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s