Racuni Aku, Cinta…

Cinta bukanlah cinta jika tak menuai lara. Cinta bukanlah cinta jika tak menoreh luka. Cinta itu candu. Cinta itu racun yang menggenangi bingkai wajahmu. Berbalut kenangan, berhias jelaga masa lalu. Diterangi sinar pengharapan adalah abstraksimu. Diremangi kegelapan malam adalah realita tentangmu.

Cinta itu candu. Aku membakar kelopaknya demi mendapatkan segumpal aroma wangi yang semu. Aku tahu asapnya akan segera melebur bersama udara tipis malam ini. Tapi aku tetap melakukannya. Aku tahu aroma wangi itu akan segera menghilang setelah beberapa saat. Namun bukankah lebih baik menghirupnya selagi bisa daripada tidak sama sekali?

Cinta itu racun. Dia merembes masuk lewat pori-poriku, menjalari seluruh tubuhku dan berkeliaran lewat aliran darahku hingga sesak terasa di dada. Aku tahu racunnya akan menghimpit jalur nafasku hingga aku tercekik di tengah udara. Tapi aku tetap menyambutnya dengan mesra. Aku tahu setetes darinya cukup untuk mematikan logika dan kemampuan berpikirku, menggantikannya dengan segumpal kesenangan semu sebelum akhirnya jantungku dibuatnya berhenti berdetak. Namun aku masih saja mengharapkannya masuk ke dalam nadiku demi kenikmatan sesaat. Bukankah lebih baik senang sekejap daripada tidak sama sekali?

Aku menelanjangi jiwaku di hadapan Cinta. Menyodorkan kedua tanganku yang pergelangannya siap untuk ditorehi luka.

Racuni aku, Cinta…

[Jakarta, 18 Juni 2016 – lewat tengah malam]

Advertisements

2 thoughts on “Racuni Aku, Cinta…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s