Menjeritlah Sekuatmu

Malam baru saja jatuh ketika hujan turun dengan derasnya. Aku menadahkan tanganku dan membiarkan rinainya jatuh membasahi telapak tanganku sebelum kemudian butirannya meluncur jatuh. Dingin terasa. Sedingin hatiku yang aku simpan di dalam lemari pendingin agar tak lekas rusak…

Aku menutup dunia di hadapanku, meraih tas punggungku kemudian mulai berjalan. Entah ke mana, yang jelas pergi meninggalkan semua yang ada di sini. Tubuhku penat, jiwaku melusuh dimakan waktu. Otakku seolah meregang karena terus dipaksa mencari jawaban yang tak pernah ada. Lalu untuk apa semua tanya itu jika tak berjawab? Ah, hanya retorika basi yang kamu gunakan sebagai senjata untuk menyerangku.

Aku berjalan sendirian di antara gaung tanya-tanya yang tak berjawab itu. Mencoba menyelipkan tubuhku di antara jeruji besi yang bergerak mendekat setiap kali aku melangkah maju. Beberapa kali tajamnya besi itu menggores kulitku. Kadang tak aku hiraukan. Sesekali aku menjerit tertahan. “Menjeritlah sekuatmu!” begitu kata angin yang setia menyertai langkahku. Aku menggeleng kuat-kuat. “Kenapa?” tanya angin dengan nada penuh rasa ingin tahu. “Karena tak ada yang mendengarku…” jawabku lirih. Angin tertawa kecil, “Jadi kamu menjerit karena ingin didengar?” tanyanya sedikit langkahku. “Buat apa menjerit jika tak ada yang mendengar?” aku balik bertanya dengan sedikit kesal. “Jika memang tak ada yang mendengar, buat apa diam? Menjerit saja sekuatmu. Toh tak ada yang peduli.” ujarnya sedikit acuh tak acuh. Aku bingung, lalu kembali melanjutkan langkahku.

“Menjeritlah sekuatmu!” lagi-lagi angin berkata padaku. “Tak ada gunanya!” aku mendengus kesal. “Tentu ada!” sambarnya cepat. “Oya? Katakan padaku!” kataku sedikit marah karena merasa langkahku terhambat. “Jangan pernah menjerit karena ingin didengar. Menjeritlah karena kamu memang perlu melakukannya… karena kamu membutuhkannya…” jawabnya datar. Aku tertegun.

Aku menutup daun pintu dunia yang terakhir. Menguncinya. Melempar anak kuncinya ke selokan lalu mulai berjalan. Sendirian seperti biasa. “Menjeritlah sekuatmu!” angin masih saja mencoba untuk membujukku. Aku hanya tersenyum kecil sambil terus berjalan. Mungkin nanti. Sekarang belum saatnya – pikirku sambil terus melangkah pergi meninggalkan dunia yang sekarang sudah terkunci rapat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s