Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 7: Kontemplasi]

Pada suatu senja yang sepi…

Sendiri adalah saat-saat di mana pikiran berlarian bebas di sepanjang rongga kepala laki-laki itu. Berbagai kenangan dan khayalan bercampur aduk menjadi satu hingga kadang dia tak tahu lagi mana kenangan, mana khayalan. Ambigu. Mungkin karena hidupnya abu-abu. Rajni adalah satu-satunya realita baginya. Ratu Cahaya yang akan selalu ada ketika dirinya kembali usai berkelana. Tapi justru karena Rajni adalah realita, perempuan itu tak tersentuh. Tak bisa dan tak boleh disentuh. Bayu hanya bisa menyentuhnya dalam khayalan, di mana Rajni adalah Ratu Cahaya yang maya. Rajni mau tak mau akan selalu terpisah dari dunianya.

“Rajni adalah realita, Bay. Tapi bukan realitamu. Realitamu adalah Adriana. Stick to it!” begitu Laras pernah memperingatkannya. “Aku paham, Ras. Dia ada di dalam realita yang sebenar-benarnya, sementara aku hidup dalam realita hasil fabrikasi. Tapi bukan berarti aku harus memutus semua koneksiku dengannya, ‘kan?” jawab Bayu sambil menyalakan rokoknya. Laras tertawa kecil, “Kamu menyukainya?” perempuan itu bertanya tanpa tedeng aling-aling. Bayu tersedak asap rokoknya sendiri. “Aku pernah berjanji akan selalu menjaganya, Ras. Dan aku tidak suka jika aku tidak bisa memenuhi janjiku. Apalagi ditambah dengan aku harus membohonginya, menutupi banyak hal darinya.” Jawabnya setelah berhasil meredakan sedakan asap yang menyerangnya. Laras tersenyum, “Aku mengerti. Tapi kamu juga harus sadar bahwa kamu bisa menjaganya dengan banyak cara, Bay. Tidak harus selalu ada di dekatnya. Kamu bisa minta bantuan orang lain. Kamu bisa minta bantuanku…” ujar perempuan itu dengan ekspresi wajah serius. Bayu menatap perempuan yang duduk di hadapannya lurus-lurus.

“Kamu sungguh-sungguh mau membantuku, Ras?” tanya laki-laki itu. Laras mengangguk, “Tentu saja. Kesuksesanmu adalah kesuksesan tim. Jika kamu gagal, maka itu adalah kegagalan tim. Karena itu, Bay aku akan melakukan apapun untuk mendukung agar semuanya berjalan dengan mulus.” Tandas perempuan itu. Bayu menyandarkan tubuhnya dengan pandangan kecewa, “Kalau begitu kamu tidak tulus, Ras. Kamu membantuku hanya karena hal itu akan membantu tim kita.” Ujarnya dengan nada kecewa. Laras menghela nafas panjang. Sadar akan kesalahannya. “Maaf jika terdengarnya seperti itu. Tentu saja itu adalah tujuanku, tapi selain itu aku juga menyukai Rajni. Dia baik. Dan yang terpenting adalah dia orang terdekatmu. Sudah tentu aku mau menjaganya untukmu…” kata perempuan itu dengan tatapan bersungguh-sungguh. Bayu mengadu pandang dengan Laras. Menyelidiki kebenaran yang terkandung dalam setiap kata yang baru saja diluncurkan perempuan itu. Untuk sejenak mereka terdiam. Lalu sejurus kemudian bibir Bayu menyunggingkan seulas senyum, “Terima kasih, Ras…” ucapnya pelan.

Laki-laki itu, Bayu Kelana namanya. Berdiri tegak di tengah senja, di antara ilalang yang saling bergesekan tertiup angin. Matanya terpejam sejenak, menikmati hembus angin yang menerpa wajah dan tubuhnya. Nantikan aku, Ratu Cahaya-ku. Aku selalu kembali kepadamu meski waktuku tak tentu… – laki-laki itu membatin sendiri. Sesaat kemudian laki-laki itu membuka matanya dan memandang hamparan padang ilalang di depannya. Padang yang seolah tak berujung. Bayu Kelana menghela nafas panjang, lalu mulai berjalan. Sendirian. Seperti waktu yang lewat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s