Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 6: Separasi]

Laki-laki itu, Bayu Kelana, menyisir pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Memastikan tak ada yang tertinggal. “Sudah siap?” Laras bertanya kepada laki-laki yang keluar dari rumah sambil menenteng traveling bag. Laki-laki itu mengangguk. Laras pun membuka pintu mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Laki-laki itu, Bayu Kelana, melempar traveling bag-nya ke dalam bagasi, lalu menempati kursi penumpang. Sejurus kemudian Laras menginjak pedal gas dalam-dalam.

“Jangan risau, Bay. Ada aku yang akan menjaga Rajni.” Laras berkata seolah bisa membaca isi kepala Bayu. Laki-laki itu tertawa kecil. “Kamu tolong temani dia ya, Ras. Atau kenalkan dia dengan temanmu yang lain. Tapi jangan yang seperti kita. Kasihan dia.” Ujar laki-laki itu pelan. Laras tersenyum sendiri. “Let’s see what I can do ya, Bay…” jawabnya sambil menepuk bahu laki-laki itu.

Rajni Kirana. Ratu Cahaya. Ratu Cahaya-ku… Maafkan aku karena selalu menghilang bersama angin… Mungkin kamu tidak pernah tahu betapa beratnya hatiku setiap kali harus meninggalkanmu tanpa pesan – Bayu membatin sendiri sambil mengganti SIM Card pada telepon genggamnya.

Perempuan itu, Rajni Kirana, berdiri di sebuah padang ilalang di atas bukit ketika senja hampir turun. Menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya. Dipejamkannya matanya sejenak, telinganya menangkap desir ilalang yang saling bergesekan. Di mana kamu, Bay? Pergilah berkelana ke mana kamu suka. Dan datanglah kepadaku ketika kamu lelah. Tinggallah sejenak denganku… – panggilnya dalam hati.

Pada suatu senja yang basah…

Sementara itu di sebuah kedai kopi yang lengang perempuan itu duduk seorang diri. Matanya tak lepas dari buku yang ada di genggamannya. Tapi betapapun perempuan itu berusaha untuk fokus pada bacaannya, pikirannya selalu melayang jauh. Melayang kepada sosok Lelaki Angin yang untuk ke sekian kalinya tak terdeteksi keberadaannya. Dia sudah mencoba menghubungi beberapa kali namun nomornya tidak aktif. Perempuan itu sudah membulatkan niatnya untuk bertanya langsung kepada Lelaki Angin, tentang siapa Adriana, hanya saja dia belum berhasil berbicara langsung.

“Aku belum sempat bertemu lagi dengannya, Ni.” Begitu jawab Laras ketika Rajni mencoba mencari tahu keberadaan Bayu lewat Laras. Sepanjang pengetahuan Rajni, memang Bayu dan Laras adalah teman kuliah. Rajni mengenal Laras pun dari Bayu beberapa tahun sebelumnya. Tak disangka mereka akhirnya berteman baik. Laras seringkali menjadi tempat Rajni mencurahkan isi hatinya.

“Rajni!” tiba-tiba suara perempuan yang sangat dikenalnya terdengar. Rajni mengangkat wajahnya, seketika senyum pun mengembang, “Hai Laras!” jawabnya. “Maaf yaaa…. Sudah lama?” tanya Laras sambil mencium kedua pipi Rajni. Perempuan itu menggeleng, “Belum kok…” jawabnya ceria. “Oh ya, kenalkan… ini temanku…” Laras menarik lengan seorang laki-laki yang berjalan di belakangnya. Rajni mengulurkan tangannya, “Halo.. Rajni. Rajni Kirana…” ujarnya memperkenalkan diri. Laki-laki itu tersenyum simpatik sambil menyambut uluran tangan Rajni, “Lintang. Lintang Umbaran.” Ujarnya. “Nah, kalian tolong pesankan hot Green Tea untukku yaaa. Aku mau ke toilet dulu!” Laras berkata sambil beranjak menuju toilet tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya.

Di dalam bilik toilet Laras mengeluarkan telepon genggamnya lalu menekan sejumlah angka dan menunggu sejenak. “Halo, Bay? It’s done…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s