Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 5: Konspirasi]

Telepon genggam Bayu tiba-tiba berdering. Laki-laki itu melirik nama yang tertera di layar lalu segera menjawab panggilan masuk itu. “Halo?” laki-laki itu menyapa. “Bagaimana? Kamu bisa bikin dia percaya ‘kan? Sepertinya begitu ya…” sambung laki-laki itu lagi. Bibirnya menyungging seulas senyum sambil mengangguk kecil. “Oke. Terima kasih ya, Ras…” ujarnya lagi sambil menutup pembicaraan dan meletakkan telepon genggamnya. Laki-laki itu menghela nafas panjang, “Maafkan aku, Ra… aku terpaksa membohongimu…” gumamnya sambil memacu mobilnya menembus kegelapan malam.

Tiga puluh menit kemudian laki-laki itu sudah tiba di rumahnya. Sebuah rumah kecil yang lengang. Dinyalakannya televisi sekedar untuk membuat suasana rumah tak terlalu hening. Kemudian direbahkannya tubuhnya yang penat di sofa tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Pikirannya tiba-tiba melayang jauh. Rajni, teman karibnya sejak kecil selalu melihatnya sebagai sosok yang berjiwa bebas. Tak bisa dikekang, tak bisa ditahan, tak bisa ditentang. Tapi yang perempuan itu tak tahu adalah bahwa Bayu terperangkap dalam banyak hal yang membuatnya harus bungkam. Menjalani hidup dalam kebisuan yang diatur sedemikian rupa untuk melindungi banyak pihak.

“Jika kamu setuju, maka tidak seorang pun boleh tahu apa yang kamu kerjakan, ke mana kamu pergi, dengan siapa dan untuk keperluan apa. Bahkan keluarga, pasangan dan orang terdekatmu sekali pun tidak boleh ada yang tahu.” Suara laki-laki itu masih terngiang dengan jelas di telinga Bayu. “Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Sekali kamu membuat keputusan, there’s no turning back.” Laki-laki itu kembali berkata, tapi kali ini sambil meletakkan sebatang pulpen di depan Bayu yang duduk menghadapi sebundel berkas kontrak kerja. Laki-laki itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya meraih pulpen di hadapannya dan membubuhkan tanda tangannya.

Beberapa minggu berikutnya atasan Bayu memanggilnya. Ketika masuk ke dalam ruangan, Bayu mendapati atasannya duduk bersama dua orang perempuan. “Adriana.” Begitu perempuan yang duduk di samping atasannya itu menyebutkan namanya. “Adriana dan dua orang anaknya akan menjadi pendukung latar untukmu, Bay.” Atasannya menjelaskan. “Beberapa hari ke depan nanti kamu, Adriana dan anak-anaknya harus melakukan beberapa kegiatan yang akan didokumentasikan oleh Laras. Nanti Laras juga yang akan memberimu brief soal cerita latarnya. Kamu ikuti saja instruksinya Laras. Dia yang akan mengatur semuanya untukmu.” Tandas atasannya. Bayu tak punya pilihan lain selain mengangguk.

Selama nyaris dua minggu penuh Bayu dan Adriana mengikuti skenario yang disiapkan Laras. Berfoto di rumah dengan anak-anak Adriana. Membuat pesta ulang tahun dadakan. Menggabungkan diri dengan klab motor besar setempat. Liburan keluarga. Seluruh kegiatan mereka didokumentasikan oleh Laras. Paling tidak satu bulan dua kali Bayu harus pulang ke rumah Adriana untuk memberikan kesan kepada tetangga bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Selebihnya Bayu boleh tinggal di rumahnya sendiri. Sesekali Bayu harus ikut menjemput anak-anak Adriana pulang sekolah atau mengantar mereka jalan-jalan ke pertokoan. Anak-anak Adriana harus membiasakan diri mereka untuk memanggilnya “Papa”. Dan Bayu pun harus membiasakan diri bermesra-mesra dengan Adriana. Awalnya Bayu sedikit rikuh dan sempat mengeluh kepada Laras. “Biasakan! Ini bukan untuk kepentinganmu, Bay. Jalani saja.” Ujar Laras dengan nada tegas. Maka lama kelamaan Bayu pun terbiasa. Setelah menjalani perannya selama beberapa tahun, Bayu tidak lagi merasa rikuh berperan menjadi suami dan ayah bagi Adriana dan kedua anaknya.

Tiba-tiba lamunan Bayu dibuyarkan oleh bunyi notifikasi pesan masuk di telepon genggamnya. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat dikenalnya masuk. Laki-laki itu membuka kotak masuk dan membaca isinya. 10-17. Bayu segera beranjak dari sofa dan menyambar kunci mobilnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s