Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 4: Segregasi]

“Ra?” Sebuah suara membuyarkan lamunan Rajni. Perempuan itu tersentak, “Eh?? Ya?” jawabnya sambil menoleh dan menatap laki-laki yang duduk di belakang kemudi di sampingnya. “Kenapa, Bay?” tanyanya lagi dengan nada heran. “Sudah sampai…” Bayu menjawab sambil tersenyum kecil. Rajni menebar pandangan ke sekelilingnya. Mereka memang sudah tiba di depan rumahnya. Ah, rupanya dia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak memperhatikan jalan.

“Terima kasih ya, Bay…” ujarnya sambil meraih tasnya dan bersiap membuka pintu mobil. “Tunggu sebentar, Ra.” Cegah Bayu sambil menarik tangan Rajni. “Kenapa, Bay?” Rajni mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Laki-laki itu menatapnya dalam-dalam, “Ada apa, Ra?” tanyanya penuh selidik. “Eh? Maksudmu….?” Rajni balik bertanya dengan nada tidak mengerti. Bayu masih terus menatapnya tajam, “Sepanjang jalan kamu diam saja. Seperti memikirkan sesuatu. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya laki-laki itu. Rajni mendengus kecil, “Semua teka-teki tentangmu mengganggu pikiranku, Bay. Asal kamu tahu saja…” jawabnya sedikit ketus. “Masih soal pekerjaanku?” tanya Bayu. “Semuanya!” ujar perempuan itu setengah membentak sambil menarik lepas tangannya, lalu keluar dari mobil. Bayu tidak sempat berkata apa-apa. Hanya bisa menatap tubuh Rajni yang bergerak menjauh. Lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu.

Rajni masih terpaku di balik pintu rumahnya sambil mendengarkan lamat-lamat suara mesin mobil yang kian menjauh. Perempuan itu sungguh tidak mengerti kenapa dia merasa begitu dongkol kepada Bayu. Mungkin karena dia merasa sebagai salah satu teman karib sejak kecil, namun ternyata banyak hal yang dia tidak tahu tentang laki-laki itu. Bayu Kelana. Si Lelaki Angin. Perempuan itu merasa bahwa seharusnya dia paham bahwa sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan laki-laki itu. Jiwanya adalah teka-teki penuh misteri yang tak terpecahkan dan jalan hidupnya adalah sebuah labirin yang menyesatkan siapa pun yang mencoba untuk masuk.

Perempuan itu lalu masuk ke kamarnya. Matanya segera tertumbuk pada sebentuk amplop coklat yang tergeletak di atas meja kerjanya. Rajni segera membuka amplop itu dan menggelar isinya di atas meja. Tangannya mengacak foto-foto yang bertebaran hingga ditemukannya satu foto di mana seorang perempuan memeluk mesra pinggang Bayu. Rajni menatap foto itu tanpa berkedip. Adriana, siapakah kamu? Kenapa Bayu tak mau menceritakan tentang dirimu kepadaku? – perempuan itu membatin sendiri. Sejurus kemudian diselipkannya foto itu di dalam buku agenda yang selalu dibawanya kemana-mana. Setelah itu Rajni kembali mengacak hamparan foto di atas mejanya sampai akhirnya menemukan foto perayaan ulang tahun Bayu dan lagi-lagi menyelipkan foto itu di dalam buku agenda hariannya.

Rajni merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil berpikir, apakah sebaiknya dia bertanya langsung pada Bayu tentang Adriana? Atau menunggu sampai laki-laki itu akhirnya buka mulut? Rajni bingung. Dia teringat akan pesan dari Laras ketika memberinya setumpuk informasi itu, “Mendapatkan informasi itu mudah saja, tapi yang perlu kamu pikirkan adalah apa yang akan kamu lakukan setelah kamu mengetahui semua informasi ini?” begitu Laras berkata kala itu. Dan kini, setelah semua informasi itu ada di tangan Rajni, perempuan itu tak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Kamu cemburu?” tanya Laras ketika mereka bertemu lagi. Rajni menggeleng, “Sama sekali tidak, Ras. Kamu ‘kan tahu hubunganku dengan Bayu itu sejak dulu murni cinta platonis yang tidak pernah berubah menjadi bentuk cinta yang lain.” sanggah perempuan itu. Laras tersenyum kecil, “Lalu kenapa kamu begitu penasaran?” tanyanya penuh selidik. “Karena aku berteman dengannya sudah lama sekali, tapi dia masih saja menutupi sesuatu dariku. Aku jadi ragu dengan makna pertemanan kami.” Sungut Rajni setengah menggerutu. Laras tergelak, “Aaaah kamu kesal karena merasa tidak dipercaya sebagai teman karib?” kata perempuan itu disela tawanya yang renyah. Rajni menggangguk, “Iya!” jawabnya sedikit ketus.

Ya, Rajni merasa Bayu tidak mempercayainya. Tapi tidak hanya itu, Bayu juga berbohong padanya. Rajni jelas-jelas bertanya kenapa laki-laki itu selalu sendirian, dan Bayu tanpa tedeng aling-aling menjawab bahwa pekerjaannya tidak memungkinkannya untuk berpasangan. Namun nyatanya, dia sudah berpasangan. Dan tak hanya itu, dia bahkan sudah berkeluarga! Dan Rajni tak diberitahu sedikit pun tentang sisi kehidupan Bayu yang satu ini. Tiba-tiba Rajni merasa tersisihkan. Perempuan itu tiba-tiba merasa terperangkap dalam sebuah ruang isolasi yang steril dari berbagai macam informasi tentang Bayu Kelana. Kenapa harus kamu pisahkan duniamu denganku, Bay? Bukankah kita teman karib? – Rajni membatin sendiri sambil memejamkan matanya. Otaknya tiba-tiba terasa begitu penat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s