Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 1: Pertemuan]

Laki-laki itu, Bayu Kelana namanya, tegak di tengah senja sambil memejamkan matanya. Dibiarkannya hembus angin menerpa kulit wajahnya. Sejenak kemudian dia membuka matanya dan melempar pandangan ke hamparan padang ilalang di depannya. Padang itu luas, tak terlihat tepinya. Laki-laki itu menghela nafas panjang lalu mulai melangkahkan kakinya. Sendiri. Seperti waktu-waktu yang lewat.

Lelaki Angin. Begitu dulu perempuan itu selalu memanggilnya. Tidak hanya karena namanya, namun memang dia serupa angin yang berhembus. Kadang sejuk, kadang hangat tapi tak jarang pula panas. Selalu bergerak, tak pernah bisa diam di satu tempat untuk jangka waktu yang terlalu lama. Dia bisa menjadi semilir hembus angin yang melenakan, namun juga bisa datang serupa badai yang siap memporak-porandakan apapun yang menghalanginya.

Perempuan itu, Rajni Kirana namanya. Ratu Cahaya, begitu dulu laki-laki itu selalu memanggilnya. Dia duduk menghadapi secangkir besar kopi susu panas di tengah udara yang dingin. Matanya tak lepas menatap laki-laki yang duduk berseberangan dengannya. Matanya tertuju pada sebuah buku di tangannya. Tampak khusuk sekali dengan bacaannya. Rajni tak ingin mengganggu keasyikan itu, maka dikeluarkannya sebungkus rokok dari dalam tasnya. Sudah berapa lama, Bay? Ah, aku pun sudah hilang hitungan…. – Rajni membatin sendiri. Bayu Kelana adalah sosok laki-laki misterius bagi Rajni. Tak peduli sudah seberapa lama mereka saling kenal, Rajni merasa dia tak pernah benar-benar tahu tentang Bayu. Sepertinya dia hanya tahu apa yang diperlihatkan oleh laki-laki itu. Dan itu tak banyak. Lelaki Angin itu selalu menghilang bersama hembus angin, namun pasti kembali pada suatu ketika.

“Maaf, aku cuekin kamu ya?” tiba-tiba Bayu berkata sambil meletakkan bukunya di atas meja. Rajni tertawa kecil, “Tidak masalah. Aku tidak suka menganggu orang yang sedang asyik dengan dirinya sendiri.” Jawab perempuan itu sambal menghembuskan asap rokoknya. Bayu menatap Rajni, “Apa kabar kamu, Ra?” tanyanya. Bukan basa-basi, karena mereka memang sudah lama tidak bertemu. Rajni mematikan rokoknya dalam asbak lalu menghela nafas panjang, “Still alive, Bay…. As you can see…” katanya sambal tertawa kecil. Bayu ikut tertawa. Rajni menyandarkan tubuhnya sambil menatap laki-laki di depannya. “Bayu Kelana. Lelaki Angin yang selalu bertualang. Seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kabarmu? Ada cerita apa setelah sekian tahun?” ujarnya sambil tersenyum. Bayu tertawa keras-keras. “Lelaki Angin. Tidak pernah bisa diam di satu tempat. Sepertinya bapakku memberiku nama yang tepat memang…” kata laki-laki itu sambil meraih rokoknya. Rajni tertawa. “Kamu salah! Justru kamu jadi seperti ini karena nama yang diberikan bapakmu!” sanggah perempuan itu sambil menyalakan sebatang rokok lagi. Lalu keduanya sama-sama tertawa.

“So?” Rajni bertanya pendek sambil menatap Bayu, “Apa kabarmu, Bay? Dan tolong jangan berikan jawaban yang hanya mencontek jawabanku! I want stories. Your stories!” kata perempuan itu. Bayu tertawa kecil tapi tak langsung menjawab. Laki-laki itu menatap perempuan di hadapannya dengan pandangan sedikit rikuh. Rajni membalas tatapan laki-laki di depannya. “Boleh aku bertanya sesuatu yang lain, Bay?” tanya Rajni yang merasa tidak akan mendapatkan cerita dari Bayu. Laki-laki itu mengangkat bahunya sedikit. Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan berkata pelan, “Kenapa kamu selalu sendiri, Bay?” ujarnya sambil menatap lurus kepada Bayu. Laki-laki itu tercekat untuk beberapa detik meski matanya tak bisa beralih dari perempuan di depannya. “Kamu ‘kan tahu pekerjaanku tidak memungkinkanku untuk berpasangan, Ra…” jawabnya pelan. “Bullshit, Bay!” sambar Rajni cepat. “Aku bahkan tidak pernah tahu apa pekerjaanmu, Bay. Sekian tahun aku berteman denganmu aku hanya tahu satu hal: kamu selalu menghilang bersama angin.” Sambung perempuan itu. “Tapi aku selalu kembali!” kali ini giliran Bayu yang menyambar cepat. “Ya. Tapi tak ada yang tahu kapan, Bay!” Rajni menjawab setengah menggerutu. “Nah! Sudah kamu dapatkan jawaban untuk pertanyaanmu tadi, bukan?” Bayu berkata sambal menyalakan sebatang rokok. Rajni terdiam. “Perempuan mana yang mau menunggu tanpa kepastian, Ra? Tidak ada!” sambung laki-laki itu sambil menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s