Telaga Air Mata

Dengarlah sayangku, aku memang tak pernah menyelipkan namamu di dalam doa-doaku karena aku tak pandai berdoa. Tapi yang pasti, abstraksimu terselip rapi dalam setiap butir air mata yang terjatuh dan menggenang menjadi sebuah telaga. Tak hanya namamu yang terselip di sana, tapi seluruh abstraksi tentangmu.

Aku melihat wajahmu jelas terpatri dalam setiap tetes yang jatuh. Telaga air mata itu berputar dan membuat sebuah pusaran yang siap menyeretku masuk dan membawaku entah ke mana. Bukan hanya akan mencekikku dengan kenangan masa lalu, tapi juga dengan janji-janji masa depan yang terlontar manis namun hampa.

Dengarlah sayangku, telah aku larungkan semua tentangmu dalam telaga air mata ini. Seluruh abstraksimu berenang dalam air racun yang menyertai jatuhnya setiap butir air mataku. Kelak, kamu akan mengerti mengapa aku berhenti bicara dan membiarkan air mata mengambil alih tugas bibirku…

Advertisements

2 thoughts on “Telaga Air Mata”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s