Menggandeng Sepi

Aku tertegun seorang diri di ambang senja. Sudah berapa lama? Entah… Rasanya aku sudah hilang hitungan. Bukan aku melupakanmu, sayang. Aku tak pernah lupa padamu. Tak bisa dan tak mau. Justru kamu yang sepertinya sering lupa bahwa ada aku yang menanti di balik kelabunya bayang-bayang bawah pintu kamarmu.

Kamu menautkan tanganku dengan Sepi, lalu memintaku menanti sambil terus bergandengan tangan dengan Sepi. Pedih adalah rasa di awal. Kebas adalah ketika terma waktu sudah masuk periode pertengahan. Lalu sekarang, genggam tangan Sepi mulai terasa lebih hangat dan mesra daripada genggam tanganmu. Apakah ini caramu untuk membuatku mencintai Sepi? Jika memang begitu, sabarlah sayangku…. karena sepertinya sebentar lagi kamu akan menuai hasil yang luar biasa…

Jangan salahkan aku jika aku akhirnya lebih memilih bergandengan dengan Sepi yang telah begitu banyak memberikan kehangatan. Ironi, karena kosong yang ada telah terisi penuh oleh Sepi. Bersenang hati lah karena perjodohan yang kamu atur akhirnya berjalan dengan luar biasa. Karena kamu, aku jatuh cinta pada Sepi…

Aku mungkin akan berhenti menantimu…

Advertisements

One thought on “Menggandeng Sepi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s