Jangan Pisahkan Aku dari Sepiku

Kamu menitipkan aku pada Sepi di suatu malam yang dingin. Kamu menggenggam tanganku dan mengecup keningku sambil berbisik, “You’ll be just fine….” sebelum akhirnya berlalu. Aku tertegun. Berdiri terpaku dalam hening. Kamu tak mengatakan kapan kamu akan kembali untuk menjemputku. Kamu tak mengatakan apakah kamu akan sekali-sekali datang untuk menemuiku. Kamu tak mengatakan berapa lama aku harus berada bersama Sepi.

“Jangan khawatir. Aku akan membuatmu begitu sibuk sehingga kamu tak akan sadar sudah berapa lama waktu yang terlewati!” ujar Sepi sambil menggandeng tanganku, seolah bisa membaca isi kepalaku. Aku menurut dan mengikutinya. “Banyak sekali yang bisa kamu lakukan selagi berada bersamaku.” lanjut Sepi sambil terus berjalan, “Seringkali kita malah merasa waktu yang diberikan akhirnya menjadi kurang…” sambungnya lagi sambil tertawa kecil. Aku tersenyum. Sedikit rikuh, sedikit bingung. “Pokoknya, kamu tenang saja. Kamu akan menikmati setiap hal yang akan kita lakukan bersama!” ujarnya sambil tersenyum manis dan menggenggam erat tanganku. Sepasang matanya memancarkan binar terang yang menyejukkan jiwaku yang gelisah. Seketika aku pun merasa segalanya akan baik-baik saja.

Entah sudah berapa lama kamu menitipkan aku pada Sepi. Sesekali kamu datang menjengukku. Beberapa kali kamu berkata akan datang namun urung, entah karena apa. Aku belajar menikmati waktu bersama Sepi. Mengisi setiap saat dengan hal-hal yang menyenangkanku. Tapi kadangkala kamu tak senang dengan apa yang aku lakukan. Kamu meradang karena aku menutup kedua telingaku. Kamu ingin didengar, tapi kamu sendiri yang menitipkan aku pada Sepi. Lalu aku harus apa?

Kamu menitipkan aku pada Sepi di suatu malam yang dingin. Aku harus bisa tinggal dengan Sepi tanpa kamu. Aku harus bisa menikmati waktuku tanpamu dan hanya dengan Sepi. Tapi ketika aku mulai jatuh ke dalam pelukan Sepi, kamu tak suka. Kamu mau aku tetap untukmu. Kamu mau aku tetap mendengarmu, tapi kamu tak ada untukku. Lalu aku harus apa?

Terlambat. Kamu yang menitipkan aku pada Sepi di suatu malam yang dingin sambil berkata, “You’ll be just fine…” . Maka sekarang jangan pisahkan aku dari Sepiku karena dia ada ketika kamu tak ada. Karena Sepi lah yang mendekapku ketika kamu sibuk dengan isi kepalamu sendiri. Sepi lah yang menghapus air mataku, ketika kamu menghilang. Sepi lah yang menuturkan dongeng sebelum tidur ketika kamu tak sudi berbagi kata. Dan hanya Sepi lah yang mengecup keningku ketika kamu sibuk mendekap jiwa yang lain…

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Pisahkan Aku dari Sepiku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s