Dongeng Sepi di Telaga Sunyi

Perempuan itu duduk sendiri di tepi sebuah telaga yang sunyi. Tak ada orang lain di sana. Hanya dia, telaga yang berwarna hijau kemilau dan hutan kecil yang baru saja diterobosnya. Ditemani hembus angin, perempuan itu melepas penat sambil memandang telaga di hadapannya.

Air di telaga itu begitu tenang. Tak beriak sedikit pun. Telaga itu serupa cermin bagi langit, pepohonan dan perbukitan yang ada di sekitarnya. Segalanya begitu hening, hanya ada suara desir angin yang bergesekan dengan dedaunan. “Ceritakan padaku….” tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Perempuan itu tersentak sedikit namun kemudian menjawab, “Tentang apa?” ujarnya. “Everything. The pain, the sorrow, the happiness.… Apa saja.” kata suara itu lagi. Perempuan itu diam sejenak, sedikit bingung hendak mulai dari mana. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana…” akhirnya dia menjawab. “Ah, dari mana saja. Biarkan mengalir saja. Tak perlu terlalu dipikirkan…” kata suara itu lagi.

Perempuan itu menghela nafas panjang. “Aku kesepian… Padahal aku menyukai kesunyian dan tak suka keramaian…” katanya membuka cerita. “Sakit?” tanya suara itu lembut. Perempuan itu menyunggingkan senyum getir, “Ya… Lumayan…” jawabnya sambil tertawa kecil. Getir. “Tanganku digenggam erat, tapi dia menengok ke arah lain… Tubuhku dipeluk, tapi pikirannya bercabang-cabang seperti ranting cemara…” kata perempuan itu pelan. “Aku hanya memilikinya ketika malam tiba…” sambung perempuan itu. “Tapi bukankah itu lebih baik daripada tak memiliki sama sekali?” tanya suara itu. “Benarkah begitu?” perempuan itu balik bertanya. “Tidakkah lebih baik jika tidak sama sekali daripada hanya separuh-separuh?” sambungnya lagi. “Semua itu relatif. Mana yang menurutmu lebih baik?” jawab suara itu lagi. Perempuan itu terdiam sejenak. Berpikir.

“Kadang aku merasa lebih baik tidak usah sama sekali…” ujarnya dengan nada pasrah, “Tapi aku juga sering berpikir lebih baik memilikinya di malam hari daripada tidak sama sekali….” sambungnya. “Aku sungguh-sungguh tidak tahu mana yang lebih baik…” keluhnya sambil menghembuskan nafas panjang. “Tidakkah kalian tetap melakukan banyak hal bersama yang menyenangkan?” tanya suara itu sesaat setelah angin berdesir agak kencang. Perempuan itu mengangkat bahunya, “Ya, kami memang melakukan banyak hal bersama. Tapi kami hampir tak pernah lagi keluar bersama. Segala sesuatunya dilakukan di dalam rumah saja. Dia… seperti tidak lagi ingin terlihat bersamaku di depan umum…” jawab perempuan itu pelan.

“Lalu kamu kesepian karena dia hanya datang di malam hari kah?” tanya suara itu lagi. Perempuan itu tersenyum kecil lalu menggeleng, “Rasanya tidak… Aku kesepian bahkan ketika dia ada denganku. Aku kesepian karena aku tahu pikirannya bercabang seperti ranting cemara…” jawabnya kembali dengan nada getir. “Aku seperti persinggahan sementara, sebelum dia meneruskan perjalanan. A shelter, not a destination…” sambungnya lagi sambil mengusap matanya.

“Nikmati saja….” ujar suara itu di tengah deru angin yang semakin kencang. Seperti hujan akan turun sebentar lagi. “Eh?” perempuan itu terkejut, “Nikmati saja?” ulangnya. “Ya… Nikmati saja. Karena kelak semua rasa sepi dan sakit yang kamu rasakan saat ini akan menjadi masuk akal pada waktunya…” ujar suara itu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s