Dongeng Langit Senja

Entah sudah berapa lama senja selalu kelabu. Tanpa selendang jingga lembayung yang menari-nari memenuhi pelatarannya. Senja sendu dipenuhi butiran air hujan, seolah langit sedang berduka dan berlinangan air mata. Senja kali ini pun begitu. Sendu. Kelabu, tanpa larik jingga milik lembayung.

Aku duduk sendiri di bawah langit dengan secangkir kopi susu dan sebatang rokok yang baru saja aku nyalakan. Aku melihat butian air hujan sudah menggantung di sudut-sudut awan yang kelabu. “Jangan menangis, senja… Ada aku di sini menemanimu…” aku berbisik lirih kepada langit di sela kepulan asap rokokku.

Lalu langit pun menuturkan sebuah dongeng untukku. Cerita tentang rasa sakit tak berkesudahan, tentang rasa kecewa, tentang kesedihan dan tentang lara. Dongeng tentang sapa tanpa kata yang hampa tak bermakna. Diceritakannya padaku tentang janji-janji yang terkhianati, tentang dusta, tentang pahitnya racun yang merambat keluar dari sebentuk abstraksi manis bernama CINTA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s