Cerita Hujan

Malam ini basah. Hujan terjatuh tak henti seolah ingin menumpahkan semua kesedihan yang sebelumnya terkurung erat dalam awan mendung. Ada cerita di setiap butir yang terjatuh dan meresap hilang ke dalam tanah. Cerita tentang penantian dan rasa sakit yang begitu seringnya datang hingga terasa sangat alami, nyaris wajar namun mengapa masih tetap terasa getir?

Apakah kata sudah kehilangan makna? Apakah janji hanya menjadi kalimat penenang belaka? Apakah hujan telah menjadi sekedar tirai penyamar sedu yang ingin dilebur bersama rinai yang jatuh? Ketika tengadah, dinginnya membekukan wajah dan tetesnya tajam menghujam kulit. Pedih. Hujan tak lagi menjadi arena berdansa yang romantis. Hujan sudah menjadi milik kesedihan dan kesunyian yang durjana. Tetesnya yang tajam jatuh membelah udara malam, lalu mendarat di wajahku sambil menawarkan rasa sakit.

Ada cerita di setiap tetes yang jatuh dari langit malam ini. Semua masih berkisah tentang penantian dan rasa sakit yang sama. Bukan kali ini saja cerita hujan sarat berisi kepedihan, tapi kenapa masih terasa begitu getir? Bukankah seharusnya aku sudah terbiasa? Kenapa masih ada sebersit kecewa yang terselip ketika cerita itu didongengkan kembali? Aku sungguh tak bisa memahami.

Aku rindu cerita hujan yang dulu. Di mana ada derai tawa di antara butiran yang jatuh ketika kita berdansa di bawahnya. Sekarang hujan hanya menawarkan cerita lara yang penuh kesedihan. Butirannya adalah tameng yang menyembunyikan tangis tanpa suara. Tak ada lagi tawa yang terselip di antara bening kristal yang berlomba mencapai bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s