PERJALANAN

Senja yang muram hampir jatuh di kota ini. Beratnya mendung yang menggantung melingkungi lekuk langit, membuat lembayung tak punya tempat untuk menari. Lembayung pun turut mencebik. Muram karena tak bisa mengisi langit dengan tarian selendang jingganya.

Kita duduk saling berhadapan dalam hening yang pekat. Ada muram di rona wajahmu, semuram senja hari ini. “Kapan kamu berangkat?” tanyamu sambil menyalakan rokok yang terselip di bibirmu. “Hari Minggu pagi.” jawabku sambil mengepulkan asap rokokku. “Kembali hari apa?” kamu meneruskan pertanyaanmu. Aku menatapmu sejenak, “Sabtu malam. Tidak akan lebih dari itu. Mungkin sebelumnya…” jawabku pelan. “Sabtu??” suaramu meninggi, begitupun alismu. Wajahmu semakin keruh. “Itu rencananya…” jawabku, “Bisa saja lebih cepat. Tapi tidak akan lebih dari itu…” sambungku pelan. Kamu mendengus kesal. “Jadi kemungkinannya adalah, kamu akan pergi selama seminggu!” sambarmu. Aku mengangguk. Kamu lagi-lagi mendengus kesal.

“Kamu tidak pernah memberitahuku apa-apa tentang perjalananmu itu.” kamu membuka suara masih dengan nada kesal. Aku mengerutkan dahiku, “Tapi memang tak ada yang bisa aku beritahukan. Tidak ada perencanaan apapun selain berangkat hari Minggu pagi dan Sabtu malam harus sudah kembali kemari. Maksimal. Apa yang bisa aku ceritakan padamu?” aku menjawab dengan nada tak mengerti. “Coba pikirkan!” perintahmu padaku. Aku masih mengerutkan dahiku. Ah, dari awal kamu memang kurang suka dengan keputusanku ini. Jadi wajar saja jika kamu akan terus kesal padaku.

“Kamu tak pernah mengatakan padaku apa yang ingin kamu cari dari perjalanan ini.” katamu tiba-tiba memecah sunyi. Aku masih terdiam, “Diriku sendiri.” jawabku pelan. “Aku mencari diriku sendiri.” sambungku. “Dirimu yang seperti apa?” kamu bertanya sambil menyalakan batang rokok kedua. “Entah lah… yang tidak dipenuhi kemarahan, yang tidak penuh dengan kecemburuan, yang punya kedamaian jiwa.” jawabku lagi sambil mematikan rokokku. “Tidak bisakah kamu mencarinya di sini saja?” kamu berusaha mendesakku. Aku menatapmu dengan pandangan heran, “Selama ini aku sudah berusaha, tapi tidak pernah berhasil. Maka mungkin aku harus keluar dari tempat ini…” jawabku sedikit kesal.

“Kenapa kamu tidak bicara denganku? Aku ingin bisa membantumu menemukan dirimu!” kamu bicara masih dengan nada kesal. Aku menghela nafas, “Aku tidak bicara dengan banyak orang, bukan hanya dengan kamu. Aku sulit membuka diri, kamu tahu persis itu masalah yang aku hadapi. Itu lah sebabnya kenapa aku selalu menulis…” jawabku mulai ikut kesal. “Bicaralah padaku, sayang. Jangan terus menerus menumpahkan isi hatimu pada keyboard dan komputer… Kamu punya aku!” katamu dengan nada sedikit melunak. Aku memandangmu dengan tatapan sedih. Sayangku, bukan aku tak mau bicara padamu, tapi banyak hal yang aku rasakan adalah tentangmu. Tentangnya. Tentang kamu dan dia. Bagaimana bisa aku bicara padamu jika setan di dalam rongga kepalaku selalu bersiap untuk melompat keluar setiap saat dan mengambil alih kendali?

Kita adalah dua orang yang sama-sama berulang kali terjatuh ke dalam kegelapan jiwa masing-masing. Kadang bergantian. Namun adakalanya juga bersamaan. Kita tak punya pilihan selain dua hal: saling dukung atau saling meninggalkan. Kita berdua sama-sama sudah melakukan banyak hal untuk satu sama lain. Kadang kita bisa mengerti, tapi seringkali tidak. Meskipun begitu, bukankah kita selalu saling ada untuk satu sama lain? Tidak selalu secara fisik, tapi lewat dimensi lain pun. Lalu kenapa satu kali ini sepertinya sulit sekali bagimu untuk memahami permintaanku? Terlalu beratkah permintaanku?

Aku sungguh-sungguh ingin kamu mengerti bahwa aku harus melakukan perjalanan ini, agar bisa mendapatkan diriku yang lebih baik. Agar aku bisa menjadi manusia baru. Agar kita semua bisa menjalani semuanya dengan tenang dan damai. Jangan ceramahi aku. Jangan pertanyakan lagi. Jangan curigai aku. Tunggulah jika kamu sudi. Hanya seminggu, tak lebih. Tapi berlalulah jika kamu rasa satu minggu terlalu lama untukmu. Aku pasti akan kembali pada waktunya. Aku harap sekembalinya aku dari perjalananku, aku masih mendapatimu menunggu sambil menyesap kopi panasmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s