Terasing

Kita berdiri berhadapan. Saling menatap dalam kebisuan. Berpandangan namun isi kepala kita tak saling terkoneksi. Hati kita masih saling ingin merengkuh, namun tubuh ini beku dan kepala kita berkabut. Kita saling memandang satu sama lain namun tak lagi saling mengenal. Terasing.

Mungkin aku mencintai abstraksi tentangmu dan bukan realita tentangmu. Kamu yang saat ini berada di hadapanku serupa orang asing yang tak aku kenal. Namun kamu pun berkata begitu tentangku. Lalu kita sama-sama jatuh dalam diam. Dalam hati kita sama-sama mempertanyakan…

Siapakah kita?

Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kita?

Siapa yang terasing dari siapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s