Yang Tersisa

Ketika cinta datang, dia membuat sebuah lubang di dalam jiwaku. Lubang yang hanya bisa terisi oleh kamu, sebab jiwa kita serupa anak kunci dan lubangnya. Dan ketika kamu menghilang, kamu membawa serta anak kunci itu. Membiarkan jiwaku berlubang tanpa bisa tertutup lagi. Lalu yang tersisa hanya getir…

Ada malam-malam panjang di mana aku terjaga tanpamu. Menelusuri setiap retakan di dinding kamarku sekedar untuk mencari rindu darimu yang mungkin terselip di situ, meski seringkali tak aku temukan apapun selain hampa. Ketika sapa begitu mahal harganya, apakah memang lebih baik pergi tanpa bahasa? Ataukah aku harus tetap terus beranggapan bahwa kamu selalu mengingatku meski tak berkabar? Entah…

Aku melongok ke dalam jiwaku dan melihat lubang yang menganga di sana. Lubang yang digali oleh cinta ketika dia baru singgah. Lubang yang seharusnya kamu tutup dengan bilah jiwamu. Lalu aku menatap sebilah pisau yang tergeletak di lantai. Cinta meninggalkan pisau itu di sana. Bersimbah darah yang masih basah. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bersihkan, atau aku biarkan saja? Entah…

Lalu tengah malam pun berlalu. Yang tersisa hanya hampa pada lubang yang menganga dalam jiwa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s