Rindu Tak Pernah Singgah

Aku bertanya kepada lembayung senja, seperti apakah rindu itu? Lembayung hanya tertawa kecil, “Mungkin rindu adalah butiran embun di pagi hari yang lenyap terserap sinar mentari…” jawabnya sambil menari. Aku terdiam. Mungkin… Mungkin dia juga adalah tetes air hujan yang terserap musnah oleh tanah dan hanya meninggalkan harum tanah basah hingga beberapa waktu ke depan. Mungkin

Aku ingin tahu seperti apakah rindu. Aku hanya tahu satu: sakit. Apakah rindu menjelmakan rasa sakit? Apakah rindu tak punya keindahan? “Tapi bukankah selalu ada keindahan dalam setiap toreh luka dan rasa sakit yang berdenyar?” ujar lembayung lagi seolah membaca pikiranku. Aku menggeleng tanda tak mengerti. “Aku tak tahu…” jawabku pelan. Lembayung hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. “Aku tahu.” ujarnya pendek. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti, “Tapi bagaimana bisa?” tanyaku. Lembayung hanya tertawa, “Karena getir dan pahit tak bisa lepas dari keindahan. Tanpa getir dan pahit, kita tak bisa mengerti tentang keindahan. Getir dan pahit adalah esensi dari rasa sakit… Kamu mengerti?” ujarnya sambil menatapku tajam. Aku menggeleng. Lembayung menghembuskan nafas keras-keras sepertinya kesal padaku. Aku? Jujur, aku bingung…

“Kenapa kamu begitu ingin tahu?” tanya lembayung dengan nada penuh selidik. Aku menatapnya dengan pandangan menerawang. “Aku ingin tahu apakah rindu pernah singgah di hatinya.” kataku sambil memalingkan wajah. Lembayung tertawa kecil, “Kenapa kamu harus tahu?” tanyanya lagi. Aku menggedikkan bahuku, “Entah…” jawabku. “Penasaran saja.” sambungku. “Penasaran?” lembayung mengulang dengan nada heran. Aku mengangguk, “Ya. Penasaran, karena aku merasakan sakit tapi dia sepertinya tidak.” jawabku lagi. “Carilah keindahan dalam rasa sakit yang kamu rasakan itu. Percayalah, nanti tak akan terasa terlalu getir..” ujarnya sambil mengusap rambutku. “Tak ada yang indah dalam rasa sakit.” jawabku dengan nada suara pahit. “Tentu saja ada. Hanya kamu belum menemukannya saat ini. Tunggu saja sebentar lagi. Semesta akan memperlihatkannya padamu…” lembayung berseru sambil terus menari di langit senja. Aku masih bingung, namun aku tak setuju dengan apa yang dikatakan lembayung. Sakit adalah sakit. Tak ada yang indah tentangnya…

Lalu kenapa lembayung mengguruiku tentang rasa sakit dan keindahan? Aku hanya ingin tahu seperti apakah rindu itu… Aku hanya ingin tahu apakah rindu pernah singgah di hatinya atau tidak…

“Tak perlu mencari tahu…” tiba-tiba lembayung berbisik di telingaku. Aku menatapnya heran, “Kenapa?” tanyaku sedikit tak suka. “Karena mungkin rindu memang tak pernah singgah di hatinya…” jawabnya sambil melempar pandangan iba. “Atau jika pun singgah, rindu itu bukan untukmu…” sambungnya menohok ulu hatiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s