Pergilah, Jentaka…

Aku rebah di sudut lorong pikiranmu yang berliku. Sudah berapa lama aku menyusuri isi kepalamu? Entahlah. Sepertinya sudah lama sekali, namun belum juga aku menemukan jawaban atas semua resahku. Kamu tak membukakan pintu jawaban yang aku cari. Kamu membiarkanku berlari kian kemari hingga tersesat dalam labirin pikiranmu. Kamu? Hanya duduk mencakung sambil mengisap rokokmu. Memperhatikanku yang kalang kabut berlari menyusuri lekuk liku pikiranmu dalam kegelapan.

Kamu membiarkan Jentaka membuntuti di belakangku. “Pergilah, Jentaka!” begitu aku meminta, namun tak digubrisnya. “Dia mengirimku untuk mengikutimu kemana pun kamu pergi.” begitu jawabnya dengan senyum sinis tersungging. Ah, kenapa harus begini? Kenapa kamu mengirim Jentaka padaku? Tak cukup kah semua rasa sakit yang merambati setiap bilah tubuh hingga merasuk ke dalam jiwaku? “Kenapa dia mengirim kamu?” tanyaku sedikit meradang, sedikit putus asa. Jentaka mengangkat bahunya, “Entah. Mungkin ini bagian dari aturan mainnya.” ujarnya tanpa rasa empati. Aku menghentakkan kakiku dengan kesal, “Tapi aku tak pernah diberi tahu soal kamu!” aku berseru dengan marah. Jentaka tertawa. Tawanya menggelegar di seluruh penjuru kepalamu, “Kamu pikir semua akan manis dan penuh dengan pelangi? Wangi seperti padang bunga lavender yang kamu sukai itu?” tanyanya dengan nada sinis. Jemarinya meraih sebatang rokok dan menyalakannya dengan sekali jentik. “Kamu salah. Salah besar!” katanya sambil menghembuskan asap rokoknya tepat di mukaku. Aku terbatuk sedikit. “Aku tak suka padamu!” kataku sambil berdiri dan meneruskan langkah. Jentaka mendengus kecil, “Hmph. Tak ada yang suka padaku, tapi aku tak peduli. Aku akan selalu ada. Terutama untukmu.” katanya lagi.

Aku berjalan mengikuti alur labirin yang membentang di hadapanku. Melangkah asal-asalan tanpa berpikir. Untuk apa berpikir dan mencari jawaban jika tak satu pun dari pertanyaan dan keresahanku yang sepertinya akan terjawab? Aku merutuk sendiri dalam hati. “Mungkin kamu perlu memikirkan strategi untuk melewati labirin ini…” Jentaka di belakangku berkata santai. “Diam kamu! Tak ada yang meminta pendapatmu!” aku membentaknya dengan kesal. Dia hanya tertawa kecil, “Just a suggestion…” ujarnya sedikit tengil. Aku mempercepat langkahku. Mencoba meninggalkannya agak jauh di belakang. Aku sudah berulang kali mencoba mempercepat langkahku dan berharap dia tertinggal semakin jauh di belakang namun entah kenapa aku tak pernah berhasil. “You know, you can’t get rid of me…” tiba-tiba Jentaka berbisik di telingaku. Aku tersentak kaget. Tak menyangka dia begitu dekat. “Pergilah, Jentaka…” pintaku dengan suara penuh air mata. “Aku lelah…” kataku menghiba sambil menatapnya tepat di matanya. Dia hanya tersenyum kecil, mengusap bingkai wajahku sambil menggeleng, “I’m sorry, I can’t do that…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s