Segelas Bir dan Sebatang Rokok

Sepi adalah sahabat sejati yang selalu datang menyambangi kapan dia mau. Dia datang di siang terik yang membutakan. Atau di malam-malam dingin yang berangin. Sepi menggeliat, berlarian di antara pohon-pohon di tepi jalan atau di taman-taman kota. Kadang dia duduk di tepi jembatan sambil mengayunkan kaki-kakinya dan bersenandung tentang kelabunya jiwa.

Segelas bir dan sebatang rokok adalah kawan seperjalanan yang menemaniku di kala sepi datang menghampiri. Dia sering menyelusup ke dalam rongga kepalaku. Mengintip tautan pikiran-pikiranku yang kusut sambil berusaha mengurainya. Tapi tak peduli seberapa sering dia mencoba, dia tak pernah berhasil mengurai semua isi kepalaku. “Terlalu gelap!” begitu dia mengeluh pada suatu masa. Aku hanya tertawa kecil. “Siapa yang menyuruhmu masuk?” kataku sedikit sinis. Dia hanya menggedikkan bahunya sambil mencebik, “Memang tak ada yang menyuruh. Tapi itu lah kerjaku. Menyusup ke dalam rongga kepala manusia yang kesepian. Menelisik dari satu bilik pikiran ke bilik pikiran yang lain.” jawabnya sedikit tak acuh. “Apa yang kamu cari di sana?” tanyaku sedikit penasaran. Dia diam sejenak seperti berpikir. “Apa saja. Pikiran manusia adalah labirin yang menyesatkan. Misteri yang tak pernah bisa terpecahkan bahkan oleh si pemilik kepala sendiri.” jawabnya sambil menyambar gelas bir milikku dan menenggak setengah dari isinya.

“Apalagi isi kepalamu itu…” sambungnya sambil menatapku lekat-lekat. Aku membalas tatapannya, “Ada apa dengan isi kepalaku?” tanyaku sedikit tak suka. “Pikiranmu serupa labirin besar yang memusingkan. Menyesatkan, karena setiap waktu dindingnya berubah. Tak ada kemungkinan untuk kembali lewat rute yang sama…” katanya lagi. Aku masih menunggu lanjutan kalimatnya yang aku rasa sedikit menggantung. “Belum lagi situasinya begitu gelap. Gulita seperti langit malam tanpa rembulan dan bintang.” akhirnya dia meneruskan kalimatnya. Aku tertawa kecil, “Menantang, bukan?” sanggahku sedikit menyombong. Dia hanya tertawa kecut. “Siapa pun yang mencoba membaca isi kepalamu bisa-bisa berakhir pada kegilaan!” katanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa, “I’ll take it as a compliment.” jawabku. Dia hanya mengangkat bahu sambil menjawab, “As you wish…”

“Kenapa kamu biarkan isi kepalamu begitu gelap?” dia tiba-tiba bertanya memecah sunyi yang mendominasi selama beberapa detik sebelumnya. Aku sedikit terkesiap. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan serupa itu. “Aku tak melihat apa perlunya memberi penerangan pada isi kepalaku sendiri. Labirin itu hanya untukku, bukan untuk diselami siapa pun. Aku memahami isinya tanpa harus menggunakan penerangan…” jawabku akhirnya. “Begitu kah…” dia bergumam seolah berbicara pada dirinya sendiri. Aku menyalakan sebatang rokok lagi dan menyesap bir dari gelasku. “Tidakkah kamu ingin orang memahami apa isi pikiranmu?” tanyanya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan rikuh, “Ya, memang. Aku sudah pernah melakukannya tapi tak berhasil. Terlalu banyak pertanyaan tentang berbagai hal yang ada di dalamnya. Aku tak suka…” kataku memberikan pembenaran. Dia hanya mengangguk-angguk kecil.

“Aku tak ingin orang lain bisa membaca isi pikiranku…” sambungku pelan. “Tapi bukankah segalanya akan lebih mudah jika kamu membiarkan orang bisa melihat isi kepalamu dengan jelas?” sanggahnya lagi sedikit ngeyel dengan pendapatnya. Aku menggeleng. “Apa gunanya berdiskusi? Orang bisa bertanya padaku, bukan? Bisa menggali dan berdiskusi denganku.” jawabku lagi. Dia memandangku dengan tatapan tak percaya. “Jika orang sudah bisa membaca isi pikiranku, aku akan kehilangan kesempatan untuk berbagi dan bercerita. Berdiskusi dan berdebat, karena mereka tak lagi memerlukan itu semua…” sambungku sambil menghabiskan sisa bir dalam gelasku.

Ya, jika semua orang bisa membaca isi pikiranku, lalu kapan aku akan bisa duduk menikmati segelas bir dan sebatang rokok tanpa rasa sepi? Bahkan ketika tak ada yang bisa membaca isi pikiranku pun aku masih menikmati segelas bir dan sebatang rokok ini bersama sepi di sini…

Advertisements

One thought on “Segelas Bir dan Sebatang Rokok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s