Dongeng Untuk Langit Malam

Perempuan itu duduk sambil menatap langit malam yang kelabu. Malam ini rembulan tak datang. Bintang pun enggan menampakkan diri. Langit begitu gelap, hanya hamparan cahaya lampu kota yang menerangi malam. Sungguh perempuan itu lebih suka jika seluruh lampu kota itu padam dan purnama menggantung dengan sinarnya yang terang.

“Kenapa kamu selalu datang sendirian?” malam menyapa perempuan itu ramah sambil menghembuskan sedikit angin sejuk. Perempuan itu tersenyum kecil, “Memangnya kenapa? Aneh?” jawabnya sambil bertanya. Malam ikut tersenyum, “Bukan aneh, hanya sedikit heran saja melihatmu selalu duduk seorang diri. Menunggu seseorang kah?” sambungnya lagi. Perempuan itu menunduk sedikit, “Menunggu rembulan. Tapi malam ini dia tak datang…” jawabnya pelan. Malam mengangguk, “Ya, dia tak datang malam ini. Tapi bukan berarti dia akan berhenti berkunjung. Kamu tahu itu, bukan?” ujarnya. Kini ganti perempuan itu yang mengangguk, “Ya. Aku tahu itu. Absen semalam bukan berarti esok dia tak datang…” ujarnya sambil tersenyum sedikit sedih.

“Ceritakan padaku, kenapa kamu selalu menunggu rembulan datang setiap malam?” ujar malam sedikit penasaran. Perempuan itu tertawa kecil, “Aku hanya merasa senang dan tenteram jika melihatnya. Rasanya aku tak sendirian…” jawabnya sedikit malu-malu. Malam ikut tertawa kecil. “Tapi tahukah kamu bahwa bukan hanya kamu saja yang menantikan kedatangannya setiap malam….” ada sedikit nada khawatir bercampur kehati-hatian terselip dalam intonasi yang didengar perempuan itu. “Maksudmu….?” tanya perempuan itu dengan dahi sedikit berkerut. Malam menghela nafas panjang, “Banyak yang mengharapkan pertemuan dengannya setiap hari. Tidak hanya kamu. Di sini mungkin memang kamu tak bisa melihat orang lain, tapi mereka ada di mana-mana…” ujar malam memberi penjelasan.

Perempuan itu tepekur sejenak lalu tersenyum sedih, “Sebenarnya aku sudah menduga demikian, tapi aku tak pernah mau ambil pusing. Toh yang terlihat olehku dia hanya menemuiku saja. Aku hanya mau percaya apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri…” kata perempuan itu setengah menghibur dirinya sendiri. Malam tersenyum penuh maklum. “Kamu tahu, aku selalu menuliskan dongeng tentang setiap pertemuan kami di pelataran langitmu…” ujar perempuan itu tiba-tiba. Malam menaikkan alisnya, “Jadi itu kamu?” katanya dengan nada takjub. Perempuan itu mengangguk dengan wajah sumringah namun sejurus kemudian wajahnya berubah menjadi sedikit khawatir, “Aku harap kamu tidak keberatan… Aku hanya merasa harus mengabadikan setiap detik yang aku lalui bersama rembulan…” sambungnya dengan nada penuh permohonan maaf. Malam menggeleng sambil tersenyum, “Aku sama sekali tidak keberatan. Aku justru senang, karena setiap langit jadi dipenuhi dengan dongeng-dongeng tentang kalian…” jawabnya santai.

“Teruslah menuliskan dongeng untuk langit malam… Penuhilah pelataran langit ini dengan berbagai kisah kalian…” ujar malam kepada perempuan itu. “Nah, dongeng apa yang akan kamu tuliskan untuk langit malam kali ini?” lanjutnya lagi. Perempuan itu diam sejenak. Wajah sumringahnya tiba-tiba menjadi suram, tatapannya menerawang memandang hamparan cahaya lampu kota di bawahnya. Tak lama kemudian dia mengangkat wajahnya, memandang langit malam dan berkata lirih dengan mata merebak basah, “Dongeng tentang pernikahanku dengan keabadian…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s