Meresapi Senyap

Senyap adalah candu. Kali pertama terasa tak nyaman, namun setelah sekian lama dia merangsek masuk ke setiap butir darah dalam tubuh dan bersemayam di sana. Tertidur bersama bilur. Terjaga bersama jentaka. Lalu nikmatnya mulai terasa dan aku tak mau lepas lagi. Senyap adalah gema yang sunyi dan berselubung kedamaian semu. Namun biarlah semu tetap menjadi semu, selama itu candu…

Mungkin seharusnya tak aku resapi senyap yang ada, hingga tak kecanduan. Mungkin seharusnya aku berteriak dan meronta, meminta kebisingan mengisi rongga telinga agar hening cepat pergi. Tapi berteriak dan meronta tak ada gunanya karena suara yang keluar dari dalam hati tak pernah sampai ke telingamu. Lalu untuk apa aku terus bersuara jika tak didengar? Lebih baik menyerah, meresapi senyap. Berpelukan dengan kedamaian semu yang membisikkan dongeng-dongeng manis tentang cinta dan kerinduan yang tak tersampaikan.

Ketika pertama kali kamu perkenalkan senyap kepadaku, tak sekali pun kamu katakan bahwa dia adalah candu. Kamu hanya diam tanpa kata. Memberiku hening yang pekak dan menyakitkan. Maka jangan salahkan aku jika sekarang aku memilih tenggelam dalam pelukan senyap, sebab lenganmu tak lagi ada untuk merengkuh tubuhku. Lalu kamu katakan bahwa senyap adalah semu. Tapi bagiku dia nyata. Hanya senyap dan nestapa yang menemaniku ketika kamu sibuk dengan pikiranmu sendiri dan tersesat dalam labirin di dalam rongga kepalamu.

Teruskanlah bersibuk diri dengan pikiranmu, sayang. Biarkan aku meresapi senyap di sini. Sendiri…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s