Membunuh Penantian

Malam tinggal tersisa sepertiga. Detik-detik masih berlarian di dinding kamarku, lalu berguguran di tepi jendela. Menanti untuk dirangkai kembali dan disulam bersama dengan penantian. Tapi aku sudah penat merangkai waktu. Aku tak mau lagi. Maka aku biarkan detik-detik itu berguguran sehingga terbunuhlah penantian.

Lalu sebuah tanya bertengger di sudut pikiran, “Kenapa aku masih saja menanti?” Ya, kenapa? Seharusnya aku tahu, jika detik-detik sudah berguguran dan terserak tak bertuan, maka tak perlu lagi aku menanti. Lupakan saja. Tak perlu lagi memupuk harap untuk sesuatu yang tak pasti. Ketidakpastian adalah pesta bagi Nestapa. Petualangan yang menggiurkan untuk diselami namun membuahkan toreh luka.

Mencintaimu adalah menikahi Nestapa. Membiarkan diri terseret genggam tangannya yang erat menyusuri kegetiran yang memang telah dijanjikannya sejak awal. Mencintaimu adalah petualangan rasa sakit yang kian lama kian seperti candu pelaku sado masokis. Semakin sakit, semakin menggairahkan. Menggali rasa manis yang terselubung dalam rasa sakit yang tak berkesudahan.

Tapi aku tetap akan membunuh penantian dan berhenti memupuk harap, meski tak akan henti mencintaimu. Aku tak bisa berhenti mencintaimu, betapapun sakit rasanya. Karena aku telah menikahi Nestapa yang menjadi selubung jiwamu. Biar saja penantian mati terpuruk di bawah tempat tidurku. Selama tanganku masih bergenggaman dengan Nestapa, aku akan terus bertualang dalam getir yang melingkupi labirin pikiranmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s