Rebah Bersama Jentaka

Aku masih ingat ketika Cinta menggodaku dengan khayalan lembut dan manis serupa gula-gula kapas. “Percaya saja padaku, bahagia denganku adalah keniscayaan!” begitu ucapnya dengan suara yang merdu merayu. Aku pun terbius tawa renyahnya, senyum manisnya dan genggamnya yang hangat. Aku jatuh. Aku kira ketika aku jatuh, Cinta akan jatuh bersamaku. Ternyata tidak. Cinta tak jatuh bersamaku. Dia menatapku lurus-lurus dari bibir jurang sambil melambaikan tangannya. “Percayalah padaku…!” serunya ditelan deru angin.

Sekian purnama telah berlalu dan aku mendapati diriku rebah bersama Jentaka. Lalu, ke manakah Cinta? Di manakah mimpi serupa gula-gula kapas yang pernah ditawarkannya padaku dulu? Aku tegak hanya untuk mendapati bahwa tak ada siapapun yang lainnya di dekatku. Hanya ada aku, Jentaka dan laut yang murka. Lalu apakah sebenarnya yang harus aku percaya dari Cinta? Kekuatannya kah? Dustanya kah? Entah. Yang aku tahu hanyalah saat ini aku rebah bersama Jentaka dengan tubuh penuh bilur dan sembilu.

“Rebahlah bersamaku. Aku memang getir, namun setidaknya aku tak memberimu warna-warni pelangi dan mimpi tentang kebahagiaan.” ujar Jentaka sambil mencengkeram lenganku erat. Aku menoleh, mendapati Jentaka menatapku lekat-lekat. “Nah, rebahlah di sini bersamaku. Aku tahu, kamu pasti penat…” katanya lagi sambil menarik lenganku pelan. Aku? Menurut saja sambil berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Aku memang merasa sangat penat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s