Juxtaposisi [Part II]

Tahukah kamu bahwa aku berusaha keras untuk memahami isi kepalamu? Namun tak peduli seberapa keras aku berusaha, selalu ada kabut yang menghalangi pandanganku. Kamu dipenuhi oleh juxtaposisi. Kamu adalah paradoks berjalan dengan isi kepala bak labirin yang membuatku tersesat di dalamnya.

“I need you…” begitu kamu berkata padaku. Tapi kamu menampik uluran tanganku. “I miss you…” begitu kamu ucapkan padaku. Tapi kamu malah berlari menjauhiku. “I love you…” kamu berujar kala itu. Tapi kamu menghilang dan menutup diri. “Don’t leave me in this God’s forsaken world…” pintamu padaku. Tapi kamu tak menggubrisku. “Will you amend me?” kamu bertanya padaku. Tapi kamu menolak rengkuhanku. Lalu aku harus apa?

Kamu mengayun jiwaku serupa pendulum. Sebentar ke kiri, lalu sejurus kemudian ke kanan. Tahukah kamu bahwa kamu tak bisa berlari menjauhiku, menutup diri, menampik tanganku untuk kemudian berkata bahwa kamu membutuhkanku dan kamu rindu padaku. Mungkin kamu rindu berjauhan denganku. Mungkin kamu butuh aku untuk hilang dari radarmu. Mungkin… Ah, kamu memang paradoks berjalan. Juxtaposisi. Perseteruan antara gelap dan terang. Mungkin sebaiknya aku menepi sejenak sampai kamu selesai dengan dirimu sendiri, karena aku tidak sekuat yang kamu bayangkan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s