Dalam Hujan

Sendiri menatap bintang di langit, tak ada teman yang menemani dan kau pun tak pernah peduli…

Sendiri dalam gerimis dan hujan, telanjang menggigil menantimu berharap kau pun menemani…

— Tere —

Aku menatap hujan yang turun. Butirannya jatuh dengan deras hingga menggenang di tanah sebelum akhirnya terserap musnah. Sebentar lagi senja pergi dan malam akan menggantikan langit senja hari ini yang kelabu dan bersemu butiran air. Seorang kawan pernah berkata, “Tuhan tidak pernah lupa menenggelamkan matahari di sore hari…” Ya, matahari memang hanya indah ketika sedang ditenggelamkan ke balik bumi. Siang terlalu terik bagiku dan sinar matahari selalu membutakan, membuat kita tak bisa melihat dengan jelas. Sore dengan butiran hujan adalah romansa, meski membuatku merindu jingganya lembayung.

Dalam hujan aku membiarkan dua bulir air mata terjatuh mengalir bersama dengan rinai yang turun dari langit. Karena hanya dalam hujan aku bisa menyembunyikan air mata. Karena hanya hujan yang tak akan mengkhianati tangis yang merebak tanpa bisa tertahan. Lalu hembus angin berbisik di telingaku, di sela deru air yang jatuh, “Sedih?” aku menggeleng, “Sakit…” jawabku jujur. Angin pun memelukku dengan dinginnya yang menggigilkanku, “Sudah. Kamu sakit, dia pun sakit. Apa aku bilang dulu? Simpan dan kunci baik-baik hatimu itu…” ujarnya sambil membekukanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s