Meraba Isi Kepalamu

Aku menatap sosokmu yang diam membeku. Apa gerangan yang berkecamuk di dalam rongga kepalamu itu? Entahlah… Aku mencoba meraba isi kepalamu namun selalu meleset. Tak satu pun yang aku lakukan bisa kamu terima. Tak satu pun kata yang aku lontarkan bisa kamu mengerti. Lalu aku harus apa?

Kamu berteriak menyuruhku mendekat, aku mendekat. Lalu kamu berkata, “Jangan terlalu dekat!” Aku hentikan langkah dan menjaga jarak. Tapi kamu meradang, lalu kamu berkata “Kenapa kamu tak datang lebih dekat lagi?” Aku hentikan langkah dan menatapmu. Apa maumu?

Kamu tak mau aku. Tapi kamu mau aku. Kamu tak ingin bicara denganku. Tapi aku tak boleh berhenti bicara. Kamu tak mau bersamaku. Tapi kamu terus mencoba menarik tanganku. Lalu aku harus apa?

Aku masih mencoba meraba isi kepalamu. Sepertinya kamu hanya ingin aku ada untuk dipersalahkan. Tanpaku, kamu tak punya siapa-siapa yang bisa kamu caci-maki, kamu hina atau kamu persalahkan. Kamu membutuhkanku, tapi hanya untuk membuatmu merasa lebih baik dengan caramu sendiri.

Maaf sayang, aku tak mau begitu…

Mungkin nanti, ketika aku sudah tak ada lagi barulah kamu sadar bahwa kamu membutuhkanku tak hanya untuk dicaci dan dimaki. Tapi hingga saat itu tiba, kamu tak akan pernah bisa benar-benar mengerti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s