Russian Roulette

Ada sebait kata-kata bijak yang berbunyi, “There is no limit. You can do whatever you want as long as you believe in yourself.” Benarkah begitu? Mungkin untuk sebagian konteks, kata-kata bijak ini bisa diterapkan. Tapi tidak untuk laki-laki itu. Tidak pula untukku. Bagiku memahami dan menerima bahwa sebagai manusia aku punya keterbatasan, adalah hal yang penting.

Laki-laki itu duduk di hadapanku dengan wajah kusut masai. Sepertinya sudah berhari-hari dia tak tidur. Atau mungkin tak cukup istirahat. “You look like hell!” kataku tanpa basa-basi. Dia hanya tersenyum getir. “I’m tired. I’m all worn out. And I’m getting old before my time…” keluhnya lirih. “Take a break.” jawabku. “I can’t!” sambarnya segera. Aku menghela nafas. Laki-laki itu juga menghela nafas. “Kenapa tidak bisa?” tanyaku lagi. “Karena terlalu banyak yang harus diselesaikan. Dan seringkali aku harus membereskan masalah yang sebenarnya bukan aku penyebabnya.” jawabnya sedikit ketus. Aku mengamati wajah lelahnya. “Sampai kapan aku harus seperti ini? Everybody keeps violating my territory.” ujarnya lagi setengah bersungut-sungut.

“How do I keep my peace?” tiba-tiba laki-laki itu bertanya setelah terdiam untuk beberapa lama. Aku diam sejenak, “Aku biasanya mendengarkan lagu-lagu yang menenangkan sambil merebahkan tubuhku. But I don’t know if that will work for you.” jawabku. Laki-laki itu diam, seolah sedang mencerna kata-kataku. “Mendengarkan musik mungkin akan menenangkan pikiranmu, tapi kamu hanya akan mendapatkan kedamaian setelah kamu menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya…” lanjutku. Laki-laki itu menatapku dengan sedikit bertanya-tanya, “Menerima semua kekurangan, kelebihan, kelemahan, kesalahan, kegagalan. Dan tahu kapan saatnya untuk berhenti…” aku melanjutkan perkataanku setengah menjelaskan. Laki-laki itu masih menatapku sambil membisu seolah menunggu penjelasan selanjutnya. “And by stop, I meant is to feel enough and satisfied…” aku melanjutkan lagi sambil tersenyum kecil.

Manusia memang selalu penuh dengan arogansi. Tidak mudah terpuaskan karena mereka yang mudah terpuaskan tidak akan meraih kesuksesan. Begitu aku pernah mendengar. Tapi aku tak sepenuhnya setuju. Tidak mudah puas adakalanya memang baik untuk dijadikan sebagai motivasi. Tapi aku percaya bahwa kita juga harus menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan dan pada titik tertentu, kita perlu mensyukuri apa yang kita miliki dan merasa cukup dengan apa yang ada di hadapan kita tanpa harus menjadi serakah. Merasa cukup akan mengurangi frustrasi. Dan semakin sedikit frustrasi yang kita rasakan, akan membuat kita merasakan damai.

Laki-laki di hadapanku ini senang sekali bermain Russian Roulette dengan hidupnya. Berspekulasi dengan kekuatan pikiran dan jiwanya tanpa mau melihat bahwa jiwanya sudah meronta minta ampun dan memintanya untuk berhenti sejak lama. Dia senang menarik pelatuk dari pistol yang digenggamnya dengan sedikit gemetar. Dia mencari adrenaline rush yang mengalir ke otaknya ketika pistol itu tidak meledak. Sudah sekian lama dia berada dalam permainan itu dan pistol itu tak pernah meledak sekalipun, karena memang tak ada peluru di dalamnya. Namun dia terus bermain seolah masih ada 1 peluru yang tersimpan.

“My mind is clouded and my heart has blackened even worse than before…” gumamnya. “It’s like my house is really messy and at the same time I want to rearrange and redecorate. But it’s too much of a mess that I don’t know where or how to start…” lanjutnya lagi. Aku tersenyum sendiri. “Clean it first. Start from one room. Put the stuff in the next room temporarily so you can move things around and arrange the first room. Then go to the next room and repeat the process.” kataku sambil menghembuskan asap rokokku. Laki-laki itu masih diam. “At the same time, you need to sort out the things you want to keep because you cannot keep everything otherwise you become a hoarder. let go some of the things so it is not so congested.” lanjutku. “Let go some of the things?” dia bertanya. Aku mengangguk, “Letting go some of the stuff means you accept that you have limited space and need to be very selective in keeping things. Only keep the ones that are useful, you need or important. Based on priority, not melancholy or nostalgic reasons…” aku meneruskan sambil mematikan rokokku.

“Do you know what is it that you need to accept?” aku bertanya sambil membuyarkan lamunan laki-laki di depanku ini. Dia terlihat sedikit tersentak. Dahinya berkerut sedikit, “Sebenarnya itulah pertanyaan yang hingga sekarang belum terjawab olehku…” ujarnya lirih. “Everything. You need to accept everything the way they are.” jawabku sambil menyalakan rokok. “Eh? Semuanya?” ujarnya balik bertanya padaku. Aku mengangguk, “Ya. Menerima bahwa sebagai manusia, kita punya batas dan keterbatasan.” jawabku. Dia masih terdiam. “Berhentilah ketika kamu harus berhenti. Jangan paksakan dirimu. Forcing yourself will only break you.” jawabku. “Will you mend me…?” tiba-tiba dia bertanya pelan. Aku menatapnya. Memandang laki-laki di hadapanku lalu tersenyum, “I’ll do my best. I don’t always know how, but I will give my best…” jawabku pelan sambil mengecup matanya yang lelah. Berjanjilah untuk berhenti bermain Russian Roulette dengan dirimu sendiri! – aku berteriak dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s