Membebat Hati

Aku menatap sebentuk hati yang sudah beku itu. Ada retakan di permukaannya yang menghitam. Dahiku berkerut. Aku tahu ada luka di sana sebelum hati itu membeku, namun rupanya tak sempat benar-benar sembuh hingga ketika membeku, hingga ada celah yang menganga. Aku memberengut sedikit karena kesal. Mau tak mau aku harus membebat hati itu agar tak hancur berkeping meski sebenarnya aku tahu, tak ada gunanya membebat hati yang sudah beku dan mengeras…

“Masih sakit?” tiba-tiba suara itu terdengar datang dari belakangku. Ah, dia lagi. Sejurus kemudian kepalanya melongok lewat bahuku. “Tidak terlalu.” jawabku pendek. Dia tersenyum, “Sudah pernah aku bilang, bukan? Lama- kelamaan rasa sakit itu akan memudar setelah hatimu kamu taruh di dalam freezer. Aku tidak bohong, ‘kan?” lanjutnya dengan nada ceria. Aku tersenyum kecil dan mengangguk, “Ya, kamu benar.” jawabku lagi sambil membebat hati yang beku itu. “Tapi masih ada sedikit pilu terasa.” keluhku. Dia menepuk bahuku, “Tentu saja! Tapi hanya sedikit, ‘kan? Jika kamu sibuk juga tak terasa lagi. Santai saja.” ujarnya seolah ingin menenangkanku. Aku mengangguk sambil terus melanjutkan membebat hati itu.

Sakit itu memang sudah jauh memudar. Tak ada lagi frustrasi, sedih berkepanjangan atau rasa kecewa yang dulu kerap memenuhi rongga dadaku. Semuanya kini terasa lebih ringan. Ketika kamu berkata bahwa kamu tak datang, aku bisa mengerti dengan mudah. Tak lagi sesak seperti dulu. Tak ada lagi keinginan yang menggebu, nyaris mendesak untuk membuatmu menghampiriku. Aku bisa membiarkanmu datang dan pergi sesuka hatimu. No more waiting in vain… Aku tak lagi merasa perlu untuk merajuk ketika kamu tak berkabar. No news is good news… 

“Bukankah pernah aku katakan pada suatu ketika, bahwa pada satu masa aku akan berhenti menantimu… Sepertinya masa itu telah tiba. Aku tak lagi menunggumu. Kamu boleh datang dan pergi sesuka hatimu. Aku tak lagi perlu penjelasan atau kata-kata yang menenangkan darimu. Aku akan tetap ada di sini, tapi aku tak lagi menunggumu…” aku bergumam sendiri sambil meletakkan hati yang sudah terbebat itu kembali ke dalam freezer dan menutupnya rapat-rapat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s