Kata-kata

Ambang senja sudah tiba. Lembayung sudah mulai menebar selendang jingganya di tataran langit. Senja sunyi karena kamu masih bisu. Hatiku meronta. Tak terima. Merasa terlupakan begitu saja. Senja masih sunyi dan kamu masih bisu hingga malam merangsek masuk dan gelapnya mulai memenuhi sudut langit.

“Kamu marah?” tanyamu. Aku menggedikkan bahu, “Kecewa dan merasa dilupakan.” jawabku sambil mencebik. Setengah merajuk. “Aku tidak melupakanmu.” sanggahmu. “Tapi kamu tak memberi kabar sehari penuh!” aku masih merajuk. “Aku jadi merasa tak berarti. Tak patut diingat…” aku meneruskan dengan suara lirih. Kamu tersenyum, “Lain kali jika kamu merasa begitu lagi, ingatlah bahwa aku tak pernah melupakanmu…” kamu berujar lagi. “Aku pernah berjanji padamu bahwa aku tak akan meninggalkanmu, bukan?” katamu lagi. Aku mengangguk. “Apakah kata-kataku itu tak cukup buatmu?” tanyamu lagi. “Eh??” aku tersentak kaget. Begitukah…?

Berhari-hari kamu tak datang meskipun kamu sempat berjanji. Berhari-hari aku berpikir. Kalimatmu terngiang di telingaku. Benarkah begitu? Apakah kata-katamu itu tak cukup buatku? Salahkah jika aku ingin ada sedikit tindakan yang menunjukkan bahwa aku tidak dilupakan? Salahkah itu? Berbagai pertanyaan itu berlarian di dalam rongga kepalaku selama berhari-hari. Tak cukupkah? Entah…

Lalu, di malam purnama itu aku tiba pada sebuah kesimpulan. Pembelajaran pahit yang menyakitkan itu tiba pada bab terakhirnya. Cukupkan saja. Seberapapun itu, cukupkan! Karena kurang, lebih atau cukup adalah relatif. Aku belajar untuk menerima bahwa sekian adalah cukup buatku jika tak ingin kecewa. Jika tak ingin sedih. Jika tak ingin frustrasi.

Aku mendapati bahwa kata-kata rupanya sekarang [harus] bisa dijadikan jaminan meskipun tanpa tindakan yang membuktikan kebenarannya. Janji-janji yang tak ditepati rupanya sekarang [harus] bisa dianggap lumrah jika sebelumnya sudah ada kata-kata yang bisa dijadikan jaminan. Kata-kata saja haruslah cukup untuk dijadikan pegangan dan kepercayaan. Ah, baiklah jika begitu adanya…

“Apakah kita akan bertemu nanti?” aku mengirimkan pesanku untukmu. “Iya, sayangku.” begitulah balasan darimu yang masuk sejurus kemudian. Aku tersenyum. Lalu menjelang tengah malam, “Aku tak bisa datang malam ini.” begitu bunyi pesanmu. “Understood.” hanya itu jawab dariku. “Terima kasih atas pengertianmu, sayangku…” begitu jawabmu. “No worries.” balasku pendek. Apa yang bisa aku lakukan selain mengerti? Tak ada. – aku membatin sendiri sambil tersenyum kecil dan menutup pintu freezer.

[Kisah kecil menjelang Natal 2015]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s