Surat Untuk Rembulan

Rembulanku sayang,

Kamu sering bertanya kenapa aku begitu gigih ingin melewati setiap malam bersamamu. Kamu terlihat sering tak mengerti dengan tabiatku yang satu itu. Kamu juga sering kesal karena aku merajuk ketika kamu tak datang. Kamu sering menganggapku tidak adil karena aku selalu berusaha agar semua keinginanku terpenuhi.

Rembulanku, kamu mungkin paham tapi tak sepenuhnya paham. Atau mungkin kamu lupa bahwa pada suatu malam ketika kita duduk bersama, kamu berkata bahwa akan tiba saatnya di mana kamu tak bisa muncul setiap malam di langit malam. Kamu pernah mengingatkanku bahwa suatu hari nanti, akan tiba masanya di mana aku harus melewatkan malam-malamku sendirian tanpamu.

Sebenarnya kamu tak perlu mengingatkanku akan hal itu. Aku tahu. Dan aku sadar. Tapi sebelum waktu itu tiba. Sebelum hari itu akhirnya datang, aku ingin bisa selalu melewatkan malam-malamku denganmu. Karena kamu tak datang di siang hari. Aku hanya memilikimu di malam hari dan malam hari saja. Maka maafkan aku, sayangku, jika aku terlalu mendesakmu. Sebab aku tak pernah tahu kapan hari itu akan tiba. Mungkin esok, mungkin lusa, mungkin tahun depan, mungkin sepuluh tahun lagi atau bahkan mungkin juga hari itu akhirnya tak pernah datang. Tapi jika hari itu pada akhirnya tak pernah tiba, bukan karena kamu terbebas. Jika hari itu pada akhirnya tak pernah menghampiriku, mungkin karena aku tak lagi ada untuk melewatkan malam-malamku bersamamu.

Maka maafkan aku yang terlalu gigih ingin melewati setiap malamku denganmu, rembulanku. Karena aku tak pernah tahu, siapa yang akan pergi lebih dahulu. Aku kah? Kamu kah? Entah… Waktuku tak banyak, sayangku. Dewi Kematian senantiasa mengintipku dari balik jubah malam yang kelabu. Memperlihatkan wajahnya yang pucat dan jelita seolah ingin mengingatkanku bahwa dia masih menanti saat yang tepat untuk membawaku pergi darimu. Tapi sebelum hari itu tiba, aku hanya ingin menghabiskan sebanyak-banyaknya waktuku denganmu. Aku pasti akan pergi dalam hening dan senyap. Namun aku ingin mengisi sisa waktu yang ada dengan percakapan, tawa bahkan tangis yang kamu bawa.  Tak bisakah kamu pahami itu?

Mungkin sekarang kamu tak paham. Tapi suatu hari nanti. Mungkin ketika kita sudah tak lagi bisa melewatkan malam bersama-sama, segalanya akan menjadi jelas dan kamu akan paham sepenuhnya.

Dengan cinta,

Perempuanmu

[diambil dari bisikan dua orang di sudut sebuah taman kota]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s