Ketika Waktu Bergerak Menjauh

Dulu aku selalu berpendapat bahwa waktu adalah satu-satunya yang kita miliki. Waktu adalah satu-satunya yang setia dan selalu berpihak kepada kita. Tapi itu dulu. Kini, bahkan waktu pun berkhianat. Mungkin tidak kepadamu, tapi dia jelas mengkhianatiku. Waktu tak lagi berpihak kepadaku, kepada kita. Rentangnya seolah kian memendek. Tak memberi ruang untukku, untuk kita. Setiap pertemuan seperti permainan kanak-kanak ‘tak lari’. Kita berlari dan waktu mengejar kita tanpa ampun. Lalu pada satu titik aku dan waktu akan saling berebut dirimu.

“Sadarkah kamu bahwa aku melewatkan hampir dua belas jam dalam sehari bersamamu?” begitu kamu pernah berkata. Ya, dua belas jam di mana kita melewatkan lima hingga tujuh jam dalam keadaan tak sadar di Utopia, lalu sisanya kita lewatkan bersama dalam hening serta¬†kesibukan masing-masing. Dan kita pun semakin jarang berbicara dengan satu sama lain. Kita berbicara namun tak berbicara. Saling melempar kata namun seolah tanpa cerita.

Ketika waktu bergerak menjauhi kita, haruskah aku juga ikut bergerak menjauh bersamanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s