Membunuh Rindu

Aku menatap sesuatu yang terbaring di hadapanku. Aku sudah menuntaskan niatku, tapi kenapa aku tak merasa lebih baik? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti. Lalu tiba-tiba seseorang di belakangku bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan?” nada suaranya terdengar sedikit ketakutan. Aku menoleh. Seorang laki-laki berdiri di belakangku sambil menatap sesuatu yang terbaring di hadapanku dengan pandangan ngeri. “Membunuh rindu.” jawabku pendek.

“Tapi kenapa kamu harus melakukannya?” laki-laki itu bertanya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan sebal, “Karena rindu selalu datang tanpa permisi. Tak pernah basa-basi dan tak tahu waktu!” ujarku sedikit kesal. Laki-laki itu lalu datang mendekat dan mengusap sesuatu di hadapanku yang sudah terbujur kaku. “Tapi rindu bukan penjahat…” ujarnya pelan. Aku membuang gelas berisi racun yang sedari tadi masih aku genggam. “Tapi dia begitu egois. Selalu bertambah dan kita tak pernah bisa mengerti bagaimana cara menguranginya.” aku menjelaskan. “Rindu tak punya sopan santun. Tak kenal tata krama. Mau nama, mau cerita sama saja. Membawa lara menyusup ke relung jiwa. Aku tak suka!” lanjutku masih dengan nada kesal. “Jika sudah begitu, harus kita apakan rindu yang sepertinya tak sudi beranjak pergi itu?” tanyaku berbasa-basi.

Laki-laki itu memandangku dengan tatapan sedih, “Menarilah dengannya.” jawab laki-laki itu, “Iringi sela langkah jemari. Karena mengejar rasa ingin tahu tak akan sampai, sementara menunggu hanya akan menimbulkan pilu…” katanya menjawab pertanyaanku dengan suara yang penuh kesepian. “Terlambat.” jawabku pendek, “Dia sudah mati sekarang” sambungku sedikit jumawa. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiriku sambil menggeleng, “Sama sekali tidak…” katanya sambil mengusap wajahku. Aku menatapnya dengan mata penuh tanda tanya, “Apa maksudmu?” tanyaku. “Rindu tak akan pernah bisa mati. Kamu boleh saja membunuh satu – dua – tiga atau seribu rindu. Tapi penggantinya akan selalu kembali. Itu pasti.” katanya penuh misteri. “Percayalah padaku, membunuhnya tak akan membuatmu merasa lebih baik. Membunuhnya tak membuatmu terlepas dari rengkuhnya. Membunuhnya… hanya akan semakin menguatkannya di dalam jiwamu…” dia melanjutkan sambil mempermainkan ujung rambutku. Aku terdiam. Berpikir. Jika benar begitu, maka sia-sia saja semua yang aku lakukan…. – begitu pikirku.

“Rindu tak berhak dihakimi dan dihukum. Tapi boleh lah jika kamu hendak menindak…” laki-laki itu berkata sambil beranjak meninggalkanku. Lalu tiba-tiba hutan kelabu terasa begitu sunyi. Tinggallah aku sendiri. Berdiri di hadapan rindu yang terbujur kaku. Aku memang sudah menuntaskan niatku, tapi kenapa aku tak merasa lebih baik? Entah… Mungkin laki-laki itu benar…. Ah, sial!

[Thanks to Rinda, rahMaUt, Tyo]

Advertisements

2 thoughts on “Membunuh Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s