Btari Durga

Btari Durga adalah dewi kematian…

“Durga itu sebenarnya tidak jahat, tapi kalau disenggol sedikit saja…. maka dengan kekuatannya dia bisa membuatmu menderita. Dia juga membalaskan duka-derita mereka yang diperlakukan tidak adil. Jadi, kekacauan dan kematian yang disebabkannya itu sebenarnya adalah pembalasan atas berbagai tindak kejahatan yang terjadi dan merupakan sebuah bentuk perlindungan bagi kaum tertentu.”

begitulah ayahku menjelaskan kepadaku waktu itu tentang kenapa Durga yang jelita bisa berubah seketika menjadi begitu jahat dan bengis.

Bagiku, Btari Durga adalah simbol transformasi, simbol kesetiaan dan keteguhan prinsip. Dia mewakili korban yang mampu bertahan. Cantik dan mematikan, tapi sekaligus mampu melindungi mereka yang lemah. Btari Durga adalah simbol keadilan bagi orang-orang yang termarjinal. Dan meskipun di kisah lain dia digambarkan bengis dan jahat, aku lebih suka melihat Durga lebih jauh dan lebih dalam – tidak sekedar sebatas kulit luarnya.

Senyap

Semesta hening. Hanya rongga kepalaku yang masih terus bising. Sekelilingku begitu senyap. Hanya rongga jiwaku yang bergejolak, mengaduk berbagai macam rasa yang melebur jadi satu. Aku mengedipkan mataku beberapa kali di depan cermin, sekedar untuk memeriksa apakah ada yang akan terjatuh dari situ. Tak ada. Padahal rongga jiwaku sudah basah sejak lama oleh tangis yang merembes lewat celah dan retakan yang ada. Tangis tanpa suara. Tangis tanpa air mata. Tangis yang tak pernah aku tahu apa penyebabnya.

Continue reading Senyap

Elang dan Kirana: Babak Baru

Kirana menebar pandangannya sambil berjalan keluar dari pintu kedatangan internasional. Dia mencari sosok yang menjemputnya. “Ra!!!” tiba-tiba sebuah suara memanggil. Kirana mencari sumber suara itu. Seorang laki-laki berbadan tinggi melambai penuh semangat. Seketika itu pula senyuman di wajah Kirana merekah lebar. “El!!!” panggilnya sambil bergegas berjalan mendekat. Keduanya saling berpelukan erat.

Continue reading Elang dan Kirana: Babak Baru

Membunuh Sepi

20-eye-tears-drawing

Aku pernah menyeduh sepi dan membunuh rindu. Tapi sudah lama sekali aku melakukannya. Aku menyeduh sepi bersama malam yang pekat, lalu aku membunuh rindu karena dia selalu datang tanpa permisi, tanpa basa-basi dan tak tahu waktu. Meski begitu, rindu dan sepi selalu tumbuh kembali. Seperti ekor cicak yang tumbuh lagi sehabis dipotong. Mereka selalu kembali… kembali…. dan kembali lagi.

Continue reading Membunuh Sepi

A mind's sanctuary, a soul's hideaway

Project: Road Trip for Life

Bukan perjalanan liburan!

EpiestGee

Jejak

Life Journey

/story of my life/travel/poetry/photography/stories

paroleparole

Ideas coming to me in answer to my pleas - Flowin' Prose, Beastie Boys

RINTIHAN PAGI BISIKAN SENJA

pada segalamu, cinta tak kutakar lagi.

AboeRedBLaCk

AboeRedBLaCk

dudeinheels

Complicated Mind in Words

Penikmat Dosa

Maafkan hamba wahai Tuan Penyair, kuluapkan beberapa dosa kecil di dalam syair ini ...

RamssesKids

ketika kesendirian dan kematian adalah teman yang lebih baik

cavelier

cave for (a) liar, little fact about me...ini hanya tentang diriku

Rose of Durga

The Real Life is The Afterlife

The Two Seasons

Season that always change...

aksararaska

sesuatu yang tertuang dalam huruf, kata, kalimat dan menjadi berbagai makna

Ratri Pearman

a.k.a Suksma Ratri

%d bloggers like this: